Darma Kehidupan

Ada tiga perumpamaan mengenai Kerajaan Allah yang disodorkan dalam bacaan hari ini: seumpama harta yang tak sengaja ditemukan, seumpama mutiara indah yang dicari pedagang, dan seumpama pukat yang di dalamnya terdapat aneka ikan yang mesti dipilah. Perumpamaan yang ketiga ini lalu dipautkan dengan akhir zaman, saat malaikat memisahkan orang jahat dari orang benar.

Gambaran perumpamaan pertama dan kedua menunjukkan gerak yang ditimbulkan oleh harta yang ditemukan, entah by design maupun by accident. Keduanya sedemikian hebohnya sehingga bisa menjual kepunyaan mereka, apa saja, demi mendapatkan harta mutiara itu. Yang lain-lainnya seolah-olah adalah sampah. Ini adalah sudut pandang yang sedemikian positif terhadap harta mutiara itu. Untuk sesuatu yang berharga itu, orang bebas untuk melakukan apa saja termasuk melepaskan kepemilikannya akan hal-hal lainnya. Hukum Allah pun ditegaskan sebagai kebebasan: Sabda-Mu adalah kebenaran, hukum-Mu kebebasan.

Tapi perumpamaan yang ketiga itu jadi persoalan. Kok isa-isanya Kerajaan Allah dikaitkan dengan akhir zaman dan akhir zaman itu adalah masa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Yang baik masuklah ke surga, yang buruk biarlah ke neraka. Apa gambaran ini membebaskan? Saya yakin, tidak! Pasti jauh lebih banyak orang yang diliputi ketakutan ketika mendengar wanti-wanti macam itu: kamu nakal masuk neraka, kamu bengal masuk neraka juga; baru kalau kamu baik, kamu masuk surga, dan begitu seterusnya.

Kalau begitu, gimana bisa diterima sebagai kabar gembira? Orang jadi terikat, takut, tertekan demi masuk surga. Hukum Allah bukan lagi kebebasan.

Bagaimana hukum Allah itu bisa jadi kebebasan? Barangkali bisa belajar dari teori keseimbangan. Bunyinya gimana, mboh. Pokoknya, tak perlulah orang melihat pukat berisi banyak ikan tadi disortir nanti kapan-kapan. Akhir zaman itu bukan nanti kapan-kapan. Ini adalah soal memilih, memilah, sekarang ini dan di sini. Bisa jadi orang menampilkan wajah yang diterima baik di satu sisi tetapi di lain sisi buruk. Ada saja orang yang baiknya setengah mati terhadap orang lain sampai tak bisa merawat diri sendiri. Ada saja orang yang begitu sosial dalam jangkauan internasional tetapi di rumahnya sendiri tak peduli pada kesusahan keluarganya. Bisa jadi orang hebat dalam pelayanan tetapi di lingkungan dekatnya sendiri malah bermental bossy.

Maka, kiranya memilah dan menyortir tadi bisa dimengerti sebagai upaya orang beriman untuk membuat kebaikannya sinkron antara yang di luar dan di dalam, antara lingkup luas dan lingkup sempit, antara masa lalu dan masa depan. Pokoknya, kini dan di sini, setiap orang beriman ditantang untuk mengembangkan darma kehidupan lebih daripada beban kematian.

Tuhan, mohon rahmat kebebasan untuk mencari mutiara yang mendorong kami mendarmakan hidup bagi-Mu. Amin.


MINGGU BIASA BIASA XVII A/1
30 Juli 2017

1Raj 3,5.7-12
Rm 8,28-30

Mat 13,44-52

Minggu Biasa XVII A/2 2014: Kudatuli, What Do You Seek in Life?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s