Begins with A Smile

Anda mungkin pernah mendengar nasihat populer seperti ‘ikuti saja kata hatimu’. Nasihat mengikuti kata hati itu memang jadi bottomline bagi orang beriman. Pada saat orang beriman mengalami keraguan, kebimbangan, kegalauan untuk memutuskan sesuatu, mestinya ia kembali ke kata hati. 

Akan tetapi, mengikuti kata hati sama sekali bukan perkara gampang sekurang-kurangnya karena dua hal. Pertama, orang cenderung mereduksi hati sebagai perasaan belaka: senang, sedih, kecewa, suka, benci, dan seterusnya. Kedua, perasaan itu sedikit banyak juga dipengaruhi oleh keadaan fisik. Mari teliti diri sendiri; bisa jadi ketika orang letih, ia cenderung cemberut dan baper. Mungkin agak jarang ditemui orang yang sedang bekerja keras memancarkan senyum kegembiraan. Mungkin…

Marta dalam bacaan kedua hari ini mungkin bisa jadi contoh bagaimana ketulusan hatinya ternyata bisa terdistraksi oleh aktivitas fisiknya. Dalam kontemplasi saya tidak muncul senyum Marta saat sibuk mempersiapkan makan dengan segala tetek bengeknya. Malah sadis, ia menyodorkan pertanyaan pedas kepada Yesus,”Apa kamu gak peduli sih aku repot-repot begini? Buat kamu dan murid-muridmu loh ini!” 

Saya tidak menuduh Marta ini menerapkan prinsip do ut des ala udang di balik batu, seolah-olah ia tidak tulus. Saya percaya dia tulus hati bersibuk ria menyiapkan hidangan untuk Yesus dan para murid, tetapi ya itu tadi, ketulusan itu kan datangnya dari hati. Problemnya bukan bahwa ketulusan datang dari hati, melainkan bahwa hati itu bisa dipengaruhi oleh perasaan dan keadaan fisiknya dan itu bisa merusak ketulusannya. Mesti ada beda rasa dong saat melihat orang kerja keras bermandi peluh dan garis bibirnya melengkung ke bawah dan ketika disapa tahu-tahu garis bibirnya melengkung ke atas. Ikut prihatin rasanya kalau lihat orang bekerja isinya penuh dengan wajah cemberut dan ngomel sana ngomel sini. Ini orang happy gak sih…

Kalau begitu, mengikuti kata hati justru bukan soal mengikuti perasaan atau kondisi fisik, melainkan soal mengarahkan segenap daya jiwa (ingatan-rasa, nalar-budi, kehendak-greget) pada panggilan pribadi setiap orang: bahwa aku dipanggil untuk mencinta. Tak usah ribet dengan bagaimana orang lain mencinta. Persoalannya adalah bagaimana aku mencinta. Kalau masih ribet dengan pikiran di kepala mengenai alasan cinta, Allah, agama, dan sejenisnya, sudahlah. Berhenti sejenak, tahan nafas selama-lamanya. Terserah mau dijelaskan bagaimana, udara nan gratis itu sudah cukup jadi alasan bagi orang untuk bersyukur, berterima kasih, berbahagia, entah gagal atau sukses, untung atau rugi, dan seterusnya. Dari syukur itu, besar kemungkinan orang bisa tersenyum.

Konon kata Augustinus dari Hippo, love begins with a smile… terhadap pekerjaan, terhadap orang, terhadap hewan, tumbuhan, semesta… Tentu saja itu bukan akhir: grows with a kiss, and ends with a teardrop. Apa asyiknya mengawali pekerjaan dengan cemberut, gak pernah mencecap keindahannya, dan berakhir dengan deraian air mata, hahaha… Jadi, mendingan mengawali dan mencecapnya dengan senyuman dong.

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya kami mampu memulai segalanya dengan senyum, ciyeeeeh. Amin.


PESTA WAJIB ST. MARTA
(Sabtu Biasa XVI A/1)
29 Juli 2017

1Yoh 4,7-16
Luk 10,38-42

Posting Tahun 2016: Sok Sibuk Lu
Posting Tahun 2015: MOS nan Tak Berguna

Posting Tahun 2014: Rempong versus Bengong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s