Bener Pinter

Andaikan engkau pinter memilih yang bener

Ini seperti lirik lagu dangdut yang mungkin bisa membantu orang untuk menilik kembali salah satu musuh orang yang mau setia kepada Allah. Bacaan pertama dikenal sebagai dekalog yang diterima pengikut agama sebagai perintah Allah yang berlaku umum. Tak gampang mengikuti perintah itu. Salah satu musuh kuatnya adalah ketidakpinteran untuk memilih yang bener tadi. Ketidakpinteran itu bisa bikin orang jatuh dalam keanehan yang melanggar karunia common sense manusia sehingga jadi ekstrem.

Memang sudah disinggung dalam blog ini juga bahwa ekstremisme religius bahkan tak berhubungan dengan tingkat kebodohan orang karena banyak dari mereka yang terlibat di dalam gerakan itu adalah orang-orang dengan kecerdasan luar biasa. Mereka bukan orang-orang bodoh. Mereka hendak mencari hidup yang lebih bermakna. Akan tetapi, justru itulah persoalannya. Andaikan mereka pinter memilih yang bener, mereka tiba pada makna yang autentik, yang membahagiakan sungguh-sungguh. Jadi, katakanlah mereka pinter, tetapi bukan dalam hal memilih yang bener, jadinya ya bego’. Di sini, kategori kebego’an bukan lagi kategori kecerdasan berpikir dengan IQ, melainkan kategori yang lebih utuh: ya IQ, ya EQ, ya SQ…

Maka, betul juga ya penjelasan perumpamaan pada bacaan kedua. Orang yang sudah dengar perintah Allah itu tetapi tidak mengerti (alias bego’ maksimal tadi), ya mestinya hatinya sudah terampas oleh kekuatan jahat. Saya teringat pada bagaimana mengerikannya kekuatan jahat itu: industri yang merampas potensi alam untuk merawat diri, yang menciptakan ketergantungan petani pada benih (yang termonopoli) dan produk tertentu, dan sejenisnya. Ketergantungan pada obat (dengan segala hormat pada Fidelis) seakan jadi lebih jahat daripada ketergantungan pada rekayasa industri, yang bisa melakukan persekusi dengan caranya sendiri. Ini merampas taburan benih kebaikan ilahi dalam hati orang. Curcol: bisnis kejahatan, merancang penyakit dan obatnya, merekayasa chaos dan aparat penatanya, menciptakan ramuan kulit gatal supaya shampoo laku keras, dan sebagainya. Ini bisa saja terjadi dan kalau terjadinya cuma dalam permainan monopoli, tak perlu dirisaukan kiranya. Lain soalnya kalau beneran monopoli.

Loh, katanya gak usah khawatir, Mo? Betul. Bahkan dalam bacaan kedua kekhawatiran digambarkan seperti benih di semak berduri yang terhimpit dan tak berbuah. Akan tetapi, ini bukan kekhawatiran akan perkara duniawi, melainkan kekhawatiran bahwa benih kebaikan dihimpit kekhawatiran akan perkara duniawi [itu yang kemarin disebut blessed unrest]. Orang beriman tak khawatir bisnisnya gagal sedemikian rupa sehingga menghalalkan segala cara untuk menjalankan industrinya, termasuk monopoli dan merusak tanah maupun ekosistem. Khawatirnya ya wajar-wajar ajalah. Sebaliknya, orang yang dipenuhi kekhawatiran duniawilah yang berupaya membuat rekayasa, monopoli dan eksploitasi.

Tentu, tak perlu meletakkan persoalan ini pada pengusaha-pengusaha kelas kakap yang berusaha menebusnya dengan CSR (meskipun bisa jadi itu nothing dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkan). Prinsipnya tetap berlaku untuk semua orang: memberhalakan diri, mau membuat diri penting, sebagai pusat, membuat semesta bergantung pada dirinya, membuat bumi datar, membuat orang lain tergantung. Dasarnya sama meskipun tampak baik: paradigma kekuasaan, do ut des, bukan cara hidup organik yang membaktikan diri untuk liyan.

Ya Allah, mohon rahmat kepinteran untuk merealisasikan kebaikan-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XVI A/1
28 Juli 2017

Kel 20,1-17
Mat 13,18-23

Jumat Biasa XVI B/1 2015: Good Boy, Good Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s