Galau Pembawa Berkah

Kalau Tuhan Perjanjian Lama itu diaudit, kiranya transparansinya tak perlu diragukan lagi. Setidak-tidaknya, Dia berniat baik supaya apa yang disampaikan kepada Musa juga didengar oleh semua orang. Ini kok beda dengan Tuhan yang disodorkan dalam bacaan kedua hari ini: Pribadi yang memakai metafora untuk bicara kepada manusia, dan metafora mengandaikan keterbukaan hati manusia. Tanpa hati yang terbebaskan dari tempurung dirinya sendiri, metafora tak terkuak dan Allah tampak tak transparan, bukan karena Dia memang tidak transparan, melainkan karena manusia sendiri yang penuh khayalan.

Retret ekologi bagi saya memang asli bikin galau. Sudah diantisipasi oleh pegiatnya sih: blessed unrest. Ini jenis kegalauan yang mengindikasikan bahwa orangnya ada dalam track yang benar. Sekurang-kurangnya saya bisa yakin bahwa saya berjalan di jalan yang benar; bukan dalam arti bahwa orang lain salah, melainkan dalam arti bahwa track itu sungguh mengantar saya pada kebahagiaan yang sejati. Hari-hari ini kepada saya dipertontonkan klip video yang saya sudah pernah menontonnya dan itu memunculkan kembali perasaan yang entah bagaimana mau digambarkan: sapi-sapi yang dikebiri dengan cara sadis, dibunuh secara massal, ayam-ayam, ikan juga, demi produksi makanan dan minuman bagi manusia [dan tersedia di aneka supermarket].

Saya tak pernah merasa bersalah ketika pulang ke tempat simbah makan daging dan telur yang disajikan di situ karena tahu bahwa simbah saya sendirilah yang memelihara ayam atau bebeknya dan mengambil telur juga dari hewan peliharaannya itu. Bahkan, kalau yang menyembelih hewan itu saudara saya yang muslim, pasti didoakan. Simbah saya hidup dari bumi yang dipeliharanya juga.

Itu sangat amat kontras dengan apa yang saya lihat pada klip video tadi. Apa yang membuat kontras itu terjadi, wong ya sama-sama membunuh hewan? Industri konsumsi massal! Dari mana industri itu muncul? Dari insting bisnis untuk mendapatkan keuntungan, dari insting dominasi, dari insting untuk menjadi penguasa. Efeknya dahsyat, entah bagi tanah maupun perikebinatangan dan global warming. Ya ya ya, sekarang ini apa sih yang gak dicengkeram oleh insting kekuasaan bisnis global itu, wong benih beras dan jagung aja dah kena? Bukankah anak-anak lebih doyan fastfood dan makanan instant daripada olahan organik?

Tentu saja, itu terjadi karena pendahulunya tak punya cara hidup organik. Kepada anak-anak itu cuma diinjeksikan gaya hidup ‘anorganik’: pola hidup konsumtif, menelan apa saja yang enak, yang menyenangkan. Anak-anak ini tak terlatih untuk berpikir dan bertindak dari perspektif selain insting untuk menyantlap dan menguasai yang lain itu. Cara hidup organik itu piye sih?

Salah satu latihan yang kemarin kami buat ialah meditasi benih. Inspiratif. Tak bisa dipraktikkan di sini, tetapi secara teoretis bisa dimengerti bagaimana benih itu mulai dari dalam tanah tumbuh keluar dan kalau akhirnya berbunga atau berbuah, seindah-indahnya, selebat-lebatnya, semuanya itu ya tak pernah dimaksudkan untuk dirinya sendiri. Mosok jeruk makan jeruk?

Tuhan, bantulah kami untuk mengonsumsi bumi ini dengan berkeadilan. Amin.


HARI KAMIS BIASA XVI A/1
27 Juli 2017

Kel 19,1-2.9-11.16-20b
Mat 13,10-17

Kamis Biasa XVI C/2 2016: Bukan Sulap Bukan Sihir
Kamis Biasa XVI B/1 2015: Cinta Bukan Cica
Kamis Biasa XVI A/2 2014: Kampanye Belum Selesai Brow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s