Bukan Sulap Bukan Sihir

Kenapa di tempat-tempat yang ‘agamis’ justru marak praktik korupsi? Atau, kenapa di tempat yang orangnya begitu sensitif dengan agama justru merebak praktik kekerasan? Atau, kalau mau lebih luas dan longgar dirumuskan, mengapa praktik katekese atau dakwah tidak menjamin kualitas moral tertentu (agama tak menjamin moralitas)? Pertanyaan itu kiranya juga berlaku bagi aneka bentuk pendidikan atau pembinaan lainnya. Seorang ibu bisa saja memberi aneka macam nasihat dengan rumusan verbal atau bahkan dengan teladan, tetapi bagaimana nasihat itu terasimilasi oleh anak, bergantung tidak lagi hanya pada metode atau media yang dipakai, tetapi juga pada struktur atau dinamika internal pendengarnya.

Dalam teks bacaan hari ini dipersoalkan mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan dan jawabannya sesederhana itu: kepada mereka tidak diberikan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah. Loh, kenapa kok tidak diberi karunia itu? Ya mboh, urusan si pemberi; tapi kenapa justru kenapa orang seperti itu bukannya diberi penjelasan, malah cuma dikasih perumpamaan-perumpamaan?

Kata ‘rahasia’ memang bisa menyesatkan orang karena dengan kata itu Kerajaan Allah seolah-olah adalah objek pemikiran yang terlepas dari sikap dasar pemikirnya, apakah dia mau percaya atau tidak. Misalnya, trik sulap adalah suatu rahasia yang dipegang pesulap sebelum ia membongkarnya kepada orang yang terperangah melihat sulap yang dilakukannya. Setelah rahasia itu diungkap oleh pesulap, si penonton mengerti dengan modal kognitifnya dan karena klop dengan logika pemikirannya, percayalah ia pada rahasia sulap itu. Akan tetapi, dengan terbongkarnya rahasia sulap itu, berhentilah trik sulap sebagai rahasia karena sudah terpecahkan oleh otak yang melihatnya.

Yang diterjemahkan dari bahasa Yunani dengan kata ‘rahasia’ itu adalah μυστήρια (musteria) yang lebih tepat diterjemahkan sebagai misteri. Misteri ini tak bisa direduksi sebagai ‘rahasia’ karena kerahasiaannya terletak dalam relasi antara ‘yang rahasia’ tadi dengan si subjek yang menangkapnya. Maka, penyingkapannya juga bergantung pada sikap pendengar atau subjek yang menangkapnya, dan prosesnya takkan berlangsung sekali jadi.

Misteri bisa berarti suatu perwahyuan Allah yang baru atau suatu interpretasi baru terhadap perwahyuan Allah yang sudah ada. Yesus sepertinya sedang menjelaskan bagaimana tanda-tanda zaman mengembangkan janji-janji yang sudah disodorkan sejak zaman para nabi, tetapi penjelasan akan hal itu takkan ditangkap oleh pendengar yang cuma kepo terhadap trik sulap tadi. Maka, alih-alih menyodorkan penjelasan, perumpamaan dipakai: kalau dasarnya memang percaya, dia akan menangkap suatu perwahyuan baru atau ‘dunia baru’, kalau tidak, ya takkan ada hal baru yang ditangkapnya.

Tuhan, semoga hidup kami semakin menguak misteri ilahi-Mu. Amin.



KAMIS BIASA XVI
21 Juli 2016

Yer 2,1-3.7-8.12-13
Mat 13,10-17

Posting Kamis Biasa XVI B/1 Tahun 2015: Cinta Bukan Cica
Posting Kamis Biasa XVI Tahun 2014: Kampanye Belum Selesai Brow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s