Kenapa Nangis?

Sebagian laki-laki kebingungan kalau melihat perempuan menangis, tak mengerti mesti berbuat apa. Seperti misteri, tangisan perempuan mengundang orang untuk melibatkan dirinya dalam drama kehidupan si perempuan. Lebih misterius lagi tangisan perempuan yang ada dalam batinnya: mereka yang dengan setia mencintai suaminya yang amburadul, mereka yang berbela rasa dengan anak-anak yang durhaka. Perempuan-perempuan macam ini bisa jadi menangis dalam keheningan supaya tidak menularkan kesedihan kepada sosok yang dicintainya; mereka bisa menangis diam-diam ketika diperlakukan semena-mena demi memproteksi anak-anak; mereka bisa meneteskan air mata untuk kesedihan teman dekat mereka.

Maria Magdalena yang datang ke kubur dua kali ditanya mengapa menangis, dan dua kali pula ia memberikan jawaban yang asumsinya menunjukkan ketidakpahamannya atas peristiwa yang baru saja terjadi. Ia mengira bahwa jenasah Yesus diambil orang dan malah kemudian mengira bahwa yang menyapanya itu adalah tukang kebon yang mengambil jenasahnya. Kesedihan Maria sangat manusiawi, sangat masuk akal, sangat logis: orang yang dicintainya mati dibunuh, itu sudah membuatnya bersedih tingkat dewi, dan sekarang bahkan jenasahnya pun dicuri orang! Menyedihkan! Bagaimana supaya kesedihan itu hilang? Ya kembalikanlah jenasahnya!

Itulah siklus hermeneutika yang hendak memaknai peristiwa dengan kategori pemikiran dan cakrawala manusiawi. Andaikan jenasah Yesus sungguh dicuri orang dan dikembalikan, Maria Magdalena akan gembira, tetapi kegembiraannya tak mengusir kesedihan akibat orang yang dicintainya itu mati dibunuh. Ia mungkin masih bisa berkata,”Untunglah jenasahnya masih ada’, sekurang-kurangnya masih ada nilai moral penghormatan jenasah pribadi yang dicintainya. Tetapi, setelah itu? Tak ada apa-apa! Seluruh sistem makna yang dipegang Maria Magdalena kembali lagi berputar dalam tataran moral, horisontal; semua bergantung utak-atik-otak, ditentukan pikiran manusia sendiri yang hendak menaklukkan objek pikirannya, yang membangun siklus tiada henti sampai otaknya tak berfungsi.

Yesus memberi perspektif berbeda dalam dinamika penafsiran, dan ini bisa diistilahkan sebagai hermeneutika paska. Ia memanggil Maria Magdalena. Girang karena relasi pribadinya kembali, Maria hendak mengungkapkan kegirangan penuh kehangatan kepada si pemanggil. Yang hilang telah kembali, dan wajarlah ia mendekapnya jangan sampai hilang selama-lamanya, kalau mungkin.

Yesus mengundangnya masuk ke level yang berbeda: berhentilah pada pusaran pemikiranmu sendiri dan percayakan hidupmu itu pada sesuatu yang lain. Di mana pusaran pemikiran itu bisa dihentikan? Di titik ketika orang membiarkan rahmat masuk, pada momen ketika orang membiarkan liyan masuk dalam pusaran pemikirannya. Itu bak orang meminta kopi kepada istrinya dan tidak berkutat pada pemikirannya sendiri: permintaanku jelas, keterangan waktunya juga jelas, barangnya juga ada, jadi seharusnya dia membuatkan aku kopi. Istrinya jadi objek pemikirannya (istri ya harus menuruti permintaan suami toh).

Hermeneutika paska punya dinamika lain: aku sudah menyatakan keinginanku sejelas-jelasnya, dan aku tinggal memercayakan diri pada tanggapannya yang otonom. Di sini, pusaran pemikirannya berhenti, membuka diri pada pihak lain untuk mengambil keputusan yang perlu kuhargai juga. Istrinya tidak jadi objek pemikirannya sendiri, tetapi ditempatkan sebagai pribadi yang juga punya kesadaran untuk mengkomunikasikan dirinya. Keterbukaan pada liyan itulah yang membuka kemungkinan akan kebangkitan, kebaruan.

Tuhan, semoga kami tak larut dalam pikiran dan kekhawatiran hidup dan semakin terbuka pada rahmat-Mu. Amin.


PERINGATAN WAJIB ST. MARIA MAGDALENA
(Jumat Biasa XVI)
22 Juli 2016

Kid 3,1-4
Yoh 20,1.11-18

Posting Tahun 2015 B/1: Tak Usah Takabur
Posting Tahun 2014: You Need Love