Menabur Benih Menuai Badai?

Selesailah sudah lokakarya mengenai identitas ilmu ketak-ketik dan saya mesti mengakui bahwa ini ilmu ‘baru’ bagi saya. Dulu saya mengira ini adalah corong ilmu teologi (karena memang dikategorikan sebagai bagian dari teologi praktis) tetapi sekarang tersadarlah saya bahwa tidak begitu halnya. Ilmu Kateketik bukanlah corong bagi teologi bahkan meskipun terhubung dengan teologi karena Kateketik punya elemen pedagogik yang mesti built-in. Ilmu Kateketik juga bukan melulu ilmu pedagogik atau pendidikan karena ada nuansa pembinaan iman di dalamnya. Mereka yang belajar Ilmu Kateketik ini semestinya jadi pengajar iman (Katolik) entah di sekolah, atau juga di lingkungan Gereja, dan itu sudah dengan sendirinya problematis: emangnya iman bisa diajarkan?

Syukurlah, ilmu ini cukup rendah hati untuk melihat cakupan kajiannya sendiri. Targetnya sederhana: menciptakan kondisi-kondisi yang mengantar orang pada keterbukaan terhadap perjumpaan dengan Allah sendiri. Apakah akhirnya orang mengalami perjumpaan dengan Allah, itu di luar jangkauan Ilmu Kateketik. Ilmu Kateketik seperti peranti untuk menyiapkan lahan dan menyediakan indikator bagi perjumpaan dengan Allah, tetapi perjumpaannya sendiri kan jelas bergantung juga pada rahmat Allah yang bekerja dalam diri setiap orang. Bisa saja orang yang tak terkondisikan secara akademis mengalami perjumpaan, tetapi itu di luar jangkauan kajian Ilmu Kateketik.

Teks bacaan hari ini tentu melegakan. Kerajaan Surga diumpamakan sebagai orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya, tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Tentu saja, ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, tampak juga lalangnya. Hamba-hamba tuan ladang itu datang dan bertanya,” Tuan, bukankah benih baik yang Tuan taburkan di ladang? Dari manakah lalang itu? Maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?” Tuan itu berkata,”Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Itu mengapa pegiat Ilmu Kateketik atau barangkali dalam Islam disebut Ilmu Dakwah dikenal ungkapan semoga setiap orang mendapat hidayahnya. Ilmu Kateketik hanya bergerak sejauh menciptakan necessary conditions tetapi pada dirinya tak bisa dan tak perlu berpretensi menjamin orang-orang yang jadi subjek sasarannya mengalami pertobatan alias perjumpaan dengan Tuhan. Betapa melegakannya kalau seorang guru berjibaku, bekerja keras mengajar anak didiknya, dengan kesadaran di belakangnya bahwa ia hanya memberi kondisi yang kondusif. Hasil akhirnya, sumonggo…

Tuhan, mohon rahmat kesabaran dan kerendahan hati supaya kami bekerja secara tulus bagi pemuliaan nama-Mu. Amin.


SABTU BIASA XVI
23 Juli 2016

Yer 7,1-11
Mat 13,24-30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s