Berdoa Kapan-Kapan

Percaya gak kepada orang yang bilang bahwa dia gak punya waktu untuk berdoa? Sebaiknya sih gak usah percaya karena itu adalah salah satu ungkapan mbelgedhes gombal amoh. Semua orang, sesibuk apapun, punya waktu untuk berdoa selagi ia masih bernafas dan kesadarannya gak ngedrop. Gak sempat ikut doa lingkungan, itu lain soal; tak bisa ke gereja, itu juga lain soal, tetapi gak sempat berdoa, itu adalah omong kosong. Kalau orang mau jujur dan omong isi, dia akan mengatakan bahwa dia malas atau tak mau berdoa. Alasannya bisa macam-macam, tetapi mungkin baik dilihat kesalahpahaman yang bisa jadi hinggap di kepala orang.

Kebanyakan orang mengasosiasikan kata ‘doa’ langsung dengan tindakan ritual-formal, baik individual maupun kolektif: pendarasan rumusan doa Bapa Kami dll, ibadat tujuh waktu, Ekaristi, tanda salib, rosario, sujud di depan patung berlilin, dan sebagainya. Asosiasi ini mereduksi hakikat doa pada bentuk eksternal dan bentuk eksternal selalu berada dalam ranah waktu linear: butuh tiga detik untuk tanda salib, butuh 15 menit untuk satu putaran rosario, butuh minimal satu jam untuk misa mingguan, butuh satu jam seperempat untuk EKM, dan dua jam setengah untuk ibadat Jumat Agung, misalnya.

Itu mengapa orang bisa mengatakan ‘tak punya waktu untuk berdoa’: yang ditangkapnya bukan hakikat doa, melainkan unsur-unsur formalnya yang terikat pada kronos. Memangnya hakikat doa itu apa toh, Rom?

Mari lihat teks bacaan pertama: Abraham tawar menawar dengan Tuhan yang tampaknya hendak menghancurkan Sodom dan Gomora karena hidup orang-orangnya yang ancur. Abraham mempertanyakan keadilan Tuhan jika menghancurkan seluruh kota padahal di kota itu ada lima puluh orang yang hidupnya baik. Tuhan akan membatalkan hukuman jika memang ada lima puluh orang yang hidupnya sesuai dengan petunjuk Tuhan. Abraham menawar lagi: empat puluh lima, empat puluh, tiga puluh, dua puluh, sepuluh…  dan Tuhan berjanji takkan menghancurkan Sodom dan Gomora kalau ada sepuluh orang benar. Kok bisa ya tawar menawar, kayak bisnis aja! Iya, tetapi bisnis keselamatan: tolok ukurnya adalah hidup seturut kehendak Tuhan.

Mungkinkah orang melakukan bargaining tanpa asumsi adanya relasi antarpelakunya? Mungkin saja, dan itulah relasi bisnis. Terserah lu ngapain pokoknya gue masih untung atau minimal break even point. Relasi iman tidak dilandasi oleh hitungan profit, tetapi oleh kepercayaan bahwa Allah memberikan yang terbaik bagi manusia. Allah tahu mana yang baik bagi manusia dan itulah yang diberikannya. Dari pihak manusia hanya diharapkan untuk mengetuk, meminta yang baik. Akan tetapi, bagaimana mungkin orang meminta yang baik kalau ia punya pretensi mendikte Allah mengenai mana yang baik baginya?

Coba Anda bayangkan orang yang berdoa dengan rumusan informatif,”Tuhan, kami ingin merayakan pesta kemerdekaan yang ke-71, yang telah kami nikmati atas jasa para pahlawan di berbagai pelosok negeri ini, dari Sabang sampai Merauka, berjajar pulau-pulau; sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia!” Emangnya lu lebih tahu dari Tuhan Allah po?

Doa pertama-tama adalah soal sikap batin, keterarahan hati kepada Allah dan kehendak-Nya. Sikap batin seperti ini pada tahap awal dibangun oleh ritual keagamaan. Pembangunan itu bisa berhasil, bisa juga gagal. Produk gagal adalah mereka yang getol dengan ritual tetapi sikap batinnya formalistik, legalistik, plus otoriter. Produk gagal lainnya adalah mereka yang antiritual karena dalam sikap batinnya absen solidaritas sebagai umat Allah. Produk yang baik biasanya lebih mengedepankan sikap keterarahan hati kepada Allah, baik dalam perayaan ritual keagamaan maupun dalam hidup kesehariannya. Orang macam ini doanya tidak bergantung melulu pada waktu linear sehingga takkan mengatakan “gak sempat berdoa”.

Tuhan, semoga hati kami senantiasa terarah pada-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XVII C/2
24 Juli 2016

Kej 18,20-33
Kol 2,12-14

Luk 11,1-13

Posting Minggu Biasa XVII B/1 Tahun 2015: Pasukan Nasi Bungkus
Posting Minggu Biasa XVII A/2 Tahun 2014: Kudatuli, What Do You Seek in Life?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s