Adakah Iman Selebriti?

Teks hari ini menyinggung dua model kejayaan: (1) kejayaan Anak Manusia, dan (2) kejayaan manusia pada umumnya. Kejayaan yang pertama terletak pada tindakan penyerahan dirinya, pelayanannya, dan pemberian hidupnya. Kejayaan kedua terletak pada tindakan kuasa untuk memiliki dan menundukkan kematian. Dalam dua model kejayaan inilah ada pergumulan antara cinta dan selfishness. Menariknya, cinta justru menang dalam ‘kekalahannya’, dan selfishness kalah dalam ‘kemenangannya’. Bingung gak? Enggak? Tapi ngerti gak? Enggak juga? Ya udah sekolah aja dulu, belum telat kok.

Kisahnya sederhana. Ini dialog yang memuat kesalahpahaman antara Yesus dan murid-muridnya. Biasalah. Yang diinginkan ibu dari dua murid Yesus (bisa jadi dia cuma corong aja sih, yang menginginkannya ya murid-muridnya sendiri) adalah kejayaan tipe kedua tadi, soal kuasa dan penampilan luar. Tentu saja keinginan seperti ini tak cuma ada di kepala ibu murid-murid Yesus itu, tetapi juga di kepala kebanyakan orang, bahkan kepala banyak orang sekarang ini: pangkat, jabatan, kuasa, dan sejenisnya. Tanpa itu, orang kehilangan harga dirinya.

Ini diindikasikan dalam kelanjutan perikop ini: dua orang buta berteriak-teriak memohon belas kasihan Yesus, tetapi orang banyak menghardik mereka. Orang banyak hendak membungkam suara dua orang buta ini sebagai sosok yang terpinggir, tak boleh terdengar suaranya karena martabat mereka tak sejajar dengan mereka yang sehat. Sayangnya, mereka malah berteriak semakin keras dan Yesus mendengarnya dan tergeraklah ia oleh belas kasihan dan menyembuhkan mereka.

Di situ juga kelihatan dua kutub berpikir dan bertindak antara yang ada di kepala orang banyak dan Yesus. Yang satu adalah pola pikir dan bertindak orang banyak dengan niat opresif dan dominatif. Yang lainnya adalah pola pikir dan bertindak yang muncul dari kehendak untuk melayani dan memberikan hidup bagi kemanusiaan yang konkret. Pola berpikir dan bertindak yang kedua ini mengandaikan kesadaran orang untuk memilih ‘menjadi kecil’ di mata dunia, suatu pilihan yang langsung dicibir oleh para megaloman, bahkan juga mereka yang tak sampai jadi megaloman, pokoknya mengejar menara kuasa demi kelangsungan dapur nan mentereng.

Komunitas umat beriman menghayati hidup sebagai rahmat yang beroperasi dalam pelayanan. Maka, kejayaan dan kebebasan sejati terletak dalam kerendahan hati untuk menjadi pelayan. Pelayan siapa? Pelayan Sabda dong, memangnya mau jadi pelayan siapa? Kalau pelayanan ini diletakkan dalam ranah relasi horisontal, tentu mesti ditambahi embel-embel saling. Coba bayangkan kalau yang terjadi hanya imam melayani umatnya, mana tahan? Imam ini mungkin pada suatu saat mesti mengalami burn out. Tapi juga bayangkan kalau adanya cuma umat yang melayani imamnya: imamnya malah jadi raja-raja kecil yang memperkaya diri dan bergaya selebriti.

Meskipun demikian, ‘saling melayani’ itu tidak pernah dimaksudkan untuk kepentingan romantis narcisistik orang-orang di dalamnya. Mesti ada ciri apostolik, yaitu pelayanan kepada mereka yang lemah, tersingkir, miskin, tak berdaya, yang senantiasa mengundang umat beriman untuk bertindak.

Tuhan, semoga dalam jiwa kami senantiasa terpupuk semangat untuk menyatakan sabda-Mu. Amin.


PESTA SANTO YAKOBUS RASUL
(Senin Biasa XVII)
25 Juli 2016

2Kor 4,7-15
Mat 20,20-28

Posting Tahun Lalu: Merasa Bisa, Tak Bisa Merasa
Posting Tahun 2014: Jabatan = Pelayanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s