Jadi Ortu Bersyarat

Teks bacaan pertama hari ini berisi puja-puji terhadap leluhur yang menjadi teladan, penerus tradisi baik yang menularkan keutamaan-keutamaan hidup kepada penerusnya. Cocoklah bacaan ini dipakai untuk peringatan kakek nenek Yesus dalam Gereja Katolik hari ini. Peringatan ortu daripada ortu Yesus ini mengingatkan kita bahwa keselamatan dari Allah itu ada asal-usulnya, tidak mak cling jatuh dari langit, ada prosesnya yang berjalan secara gradual; ada persiapannya juga dan persiapannya itu konkret dalam diri para orang tua: bagaimana mereka menyiapkan lahan dalam diri anak-anak mereka.

Memang sih ortu bukan segala-galanya dalam pembinaan. Sekarang ini justru bisa jadi ortu melesapkan diri mereka untuk pembinaan anak-anaknya dan melemparkan tanggung jawab pembinaan anak kepada sekolahan. Kalau hasilnya jelek, mereka tinggal menuntut sekolah! (Asem teles kok ortu yang kayak gitu itu, mentang-mentang mbayar! Mereka kira pendidikan bisa dihargai dengan uang kali ya?)

Meskipun demikian, peringatan Yoakim dan Anna hari ini sewajarnya mengundang para orang tua untuk menyadari panggilan sucinya: terlibat dalam proses penciptaan Allah yang tiada henti. Ini bukan cuma soal memproduksi anak, banyak-banyakan anak, banyak-banyakan materi yang bisa diberikan kepada anak, melainkan soal menaburkan benih baik yang kelak juga akan memengaruhi bagaimana dunia ini berjalan: semakin layak untuk dihuni atau semakin jadi seperti neraka penuh siksa.

Supaya dunia ini semakin layak dihuni, tak ada jalan selain mendengarkan Sabda Allah yang menghendaki dunia ini semakin layak dihuni oleh semua saja tanpa kecuali. Celakanya, orang tua, alih-alih mengajari anak-anaknya untuk mendengarkan Sabda Allah, bisa jadi malah mengajari mereka supaya banyak bicara dan tak perlu mendengarkan orang lain. Gimana itu? Dengan memberi nasihat-nasihat yang mereka sendiri tidak menghidupinya: omong sayang-sayangan tapi yang utama adalah soal duit, banyak omong cinta tapi bumbunya penuh ancaman, omong setuju tapi diam-diam memboikot, dan aneka macam cinta bersyarat lainnya. 

Tuhan, semoga kami semakin bersolidaritas dengan-Mu dalam pembinaan titipan-Mu kepada kami. Amin.


PERINGATAN WAJIB ST. YOAKIM DAN ANNA
(Sabtu Biasa XVI A/2)
26 Juli 2016

Sir 44,1.10-15
Mat 13,16-17

Posting Tahun 2014: Perlu Hari Orang Sakit?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s