Ketak Ketik

Hari-hari ini saya terfokus pada lokakarya mengenai ilmu kateketik, yang mungkin bagi 99,99% rakyat Indonesia adalah barang asing. Untuk saya sendiri sebetulnya juga itu asing sebelum mengikuti lokakarya ini. Kata kateketik sendiri memang tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Paling dekat dengan itu barangkali adalah kata ketak-ketik seperti yang saya lakukan sekarang (dengan hati yang berketak-ketik). Akan tetapi, ini rahasia ya, jangan bilang siapa-siapa: kateketik adalah ilmu dakwah dalam konteks agama Katolik, yang sangat sangat sangat sangat sangat (loh kok gak brenti-brenti sih ini?) keliru jika ditangkap sebagai usaha untuk meng-Katolikkan orang non-Katolik.

Ilmu kateketik merefleksikan praktik dakwah, yang dikenal sebagai katekese, dalam lingkup Gereja Katolik. Yang terkait dengan teks bacaan hari ini saya kira adalah tegangan antara ilmu kateketik dan praktik katekese. Sedikit saja orang yang berminat pada ilmu murni dan lebih banyak peminat terapan ilmu itu. Memang, yang murni-murni itu terasa kering, membutuhkan askese, sementara yang terapan lebih menarik karena ada asesoris-asesoris yang menyenangkan secara afektif. Terkait dengan ini, pendekatan yang kurang integral akan menafikan kutub lain: yang asik dengan praktik mengabaikan refleksi kritis, yang memikirkan kaidah-kaidah keilmuan tak memperhatikan pengalaman lapangan.

Apa yang bisa menjembatani keduanya? Menurut saya, itu seperti yang disodorkan teks hari ini: Yesus mengajar melalui metafora. Di situ ada imajinasi dan imajinasi itulah yang menantang orang untuk mendengar, melihat, membayangkan, mencoba memahami, mengkritisi, mempertanyakan. Orang tak harus memformulasikan pesan dengan presisi tinggi karena metafora justru mampu memperkaya pemahaman penerima pesan dan rumusan malah bisa mereduksi kekayaan itu. Tak mengherankan, ada ilmuwan yang menyampaikan ilmunya melalui seni yang mengandaikan imajinasi kreatif.

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Barangkali itulah tugas kateketik: menyodorkan sesuatu yang perlu didengar orang, yaitu keterpautannya dengan misteri ilahi, dan dengan demikian membuatnya semakin beriman. Apakah orang mau mendengarnya, barangkali juga bergantung pada rahmat Allah sendiri. Metafora tak pernah memaksa orang untuk bertindak moral begini atau begitu, tetapi memantik hati orang untuk pada gilirannya mengambil pilihan-pilihan moral tertentu.

Tuhan, mohon rahmat supaya hatiku semakin peka untuk mendengarkan Sabda-Mu. Amin.


RABU BIASA XVI
20 Juli 2016

Yer 1,1.4-10
Mat 13,1-9

Posting Rabu Biasa XVI Tahun 2014: Jokowi – Jeremiah – Jesus