Susah Ya Mendengarkan?

Ada orang-orang tertentu yang mendengarkan orang lain dengan kuda-kuda untuk menjawab atau membantahnya. Ini sikap yang dibangun orang yang mungkin butuh afirmasi diri atau mungkin sedang bermusuhan atau mungkin ada situasi lain yang pokoknya membuatnya tak bisa sungguh-sungguh mendengarkan, maunya cuma menyodorkan apa yang ada di kepalanya. Sikap macam ini tidak compatible dengan kondisi yang disodorkan Yesus hari ini untuk memenuhi kriteria menjadi saudaranya atau ibunya atau ayahnya atau eyangnya. Persaudaraan yang hendak ditawarkan Yesus bukan persaudaraan berdasarkan ikatan darah, melainkan persaudaraan yang muncul karena kesamaan visi untuk merealisasikan kehendak Allah, Kerajaan Allah.

Jika dalam tindak mendengarkan sesungguhnya dibutuhkan suatu sikap positif (keterbukaan dan kepercayaan kepada orang lain), tindak melakukan kehendak orang lain atau pihak lain terkesan tak begitu positif, lha wong cuma menjalankan perintah atasan, kehendak orang lain. Ilmu psikologi menjelaskan kepada kita bagaimana tindakan macam itu bisa jadi tempat persembunyian orang: tak mau ambil tanggung jawab, tak mau disalahkan, cari muka, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, kalau tindak melakukan kehendak Allah itu ditinjau dari sikap mendengarkan yang tulus, tak perlulah tuduhan psikologis itu dikhawatirkan. Orang yang mendengarkan Sabda Allah secara tulus, dirinya terbebaskan dari aneka kepentingan diri narcisistik (meskipun tidak berarti bahwa Sabda Allah melenyapkan kepentingan diri). Maka, melaksanakan kehendak Allah tidak berarti bahwa ia sekadar hendak melarikan diri dari tanggung jawab sosial tindakannya atau menyembunyikan kepentingan diri narcisistiknya, tetapi justru ia melibatkan dirinya dalam tanggung jawab itu. Dengan kata lain, ia takkan menyalahkan kehendak atau Sabda Allah jika ternyata konsekuensi pilihan tindakannya begitu berat, mengundang luka, menciptakan tragedi, dan sebagainya.

Sebagaimana mendengarkan orang lain tidaklah mudah, begitu juga mendengarkan Sabda Allah: diandaikan hati orang berfungsi. Jelas bukan fungsi hati untuk membersihkan darah, mengurai hemoglobin, memproduksi kolesterol, dan lain sebagainya. Ini adalah hati yang memampukan orang untuk berempati dengan mereka yang lemah, menderita, tersingkir, terinjak-injak oleh struktur yang tak adil, di manapun wilayah ranahnya. Dalam diri orang yang punya hati seperti ini, tindak melakukan kehendak Allah, bahkan kehendak orang lain, bukan lagi merupakan pelecehan identitas diri atau perendahan harga diri, melainkan justru pengayaan diri. Empati orang mengundangnya untuk memaknai hidup juga dengan perspektif yang lain.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu saling mendengarkan dan menangkap Sabda-Mu untuk kami realisasikan dalam hidup bersama. Amin.


HARI SELASA BIASA XVI
19 Juli 2016

Mi 7,14-15.18-20
Mat 12,46-50

Posting Selasa Biasa XVI B/1 Tahun 2015: Keluarga Ancur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s