Intermezzo. Saya jadi seperti mantan presiden yang gemar prihatin. Kemarin, di salah satu perempatan ikonik tempat saya tinggal, ada puluhan orang muda yang berunjuk rasa. Saya acungi jempol karena unjuk rasa itu menyangkut perkara yang bikin rempong banyak orang. Salut saya kepada orang-orang muda yang peduli ini. Akan tetapi, tak lama, saya mendengar dari corong pengeras suara yang menimbulkan sensasi gimana gitu sehingga saya jadi prihatin. Mungkin, orang-orang muda ini kurang menimbang-nimbang perkara bener ning ora pener. Soalnya, suara itu jelas sekali menyuarakan agama si pembicara, bukan perkara ketidakadilannya. Ya betul, agama tak suka ketidakadilan, tapi gak perlu sitir satu agama doang juga keleus dong deh apa sih?
Saya mengaku, saya pun tak mau rempong turun dari kendaraan dan berdiskusi dengan pengunjuk rasa (siapa elu?) sehingga cuma menyimpan rasa prihatin tanpa puisi dan lagu di akhir September. Ini tidak layak ditiru [ini yang mana, Rom?].
Akhir September di tanah Palestina dulu adalah masa anggur matang dan layak dipanen sebelum waktu hujan tiba. Tahu sendiri, kan, kalau anggur ini terkena hujan, dijamin produksi anggurnya buruk. Jadi, tidak ada banyak waktu panen dan karena itu, dibutuhkan banyak penuai. Tentu, tak mungkinlah tuan kebun anggur punya karyawan tetap sebanyak yang dibutuhkan untuk panen anggur. Kalau mungkin pun, pasti karyawannya bakal banyak menganggur di kebun anggur. Paling irit, ya pas masa panen cari buruh harian.
Buruh harian ini, dalam stratifikasi ekonomi Palestina adalah klas paling rendah. Mereka hanya berupaya bertahan hidup sebisanya dengan upah harian. Budak masih mendingan, punya jaminan dari masternya, tempat gantungannya jelas. Buruh harian benar-benar mesti mengandalkan ada orang yang bisa mengupahnya. Tak bekerja, dapur tak ngebul, literally.
Nah, perumpamaan yang disodorkan dalam Injil hari ini bukanlah hasil lomba mengarang. Situasi yang digambarkan ya kurang lebih begitulah adanya. Hanya saja, saya dan Anda, pemilik perusahaan, pelaku bisnis, pemerintah, senior, dan lain-lain, tidak bisa menerapkan perilaku tuan kebun anggur itu dalam perusahaan atau bisnis Anda, kecuali bisnis Anda memang bisnis kebun anggur dan Anda hanya punya buruh harian dan Anda tak butuh uang alias hanya bisa memberi dan memberi sesuka hati Anda. Kita ingat, ini bukan perumpamaan tentang pemilik kebun anggur. Ini adalah perumpamaan mengenai Kerajaan Surga.
Dalam Kerajaan Surga itu, keadilan tak bisa diukur dengan hitungan matematika doang. Ada unsur compassion yang kelihatan dari si pemilik kebun anggur. Reaksi terhadap bela rasa atau belas kasih pemilik anggur itulah yang jadi pokok persoalan: atau iri hatikah kamu karena aku murah hati? Tentu saja, maksud perumpamaan itu juga bukan mempersoalkan apakah Anda iri hati atau tidak.
Mari kita lihat. Compassion tidak menunjukkan bahwa si pemilik kebun anggur butuh-butuh amat buruh harian. Dari percakapannya, tidak kelihatan bahwa pemilik kebun anggur itu butuh pekerja. Dia lebih mempersoalkan: lu ngapain aja di sini selow-selow aja, ikut-ikutan mereka yang slow living? Kerja sana!
Nah, sayangnya, ada saja yang gagal paham dan melihat dunia ini dengan kategori cuan, kemajuan, bayaran, bisnis, kelas dunia, dan sejenisnya, sehingga sewotlah mereka karena yang datang belakangan pun dibayar sama dengan yang datang duluan. Ini tidak adil!
Anggapan itu jelas muncul dari pihak yang tak punya compassion. Mereka tak bisa melihat dari perspektif bahwa mereka butuh bekerja. Mereka hanya melihat diri mereka butuh bayaran; lupa, bahwa sebagai buruh harian, bisa bekerja pun sudah berkah yang melegakan. Bisa bekerja sejak awal, kelegaannya dialami sejak awal. Beda dengan buruh harian yang seharian berharap-harap cemas bisa bekerja atau tidak hari itu. Kalau tidak, bakal kelaparanlah mereka dan keluarganya. Alih-alih melihat kerja sebagai anugerah, pekerja-pekerja tanpa compassion tadi bucin dengan bayaran; tak bisa menerima kerjanya sebagai berkah; mungkin melihatnya sebagai siksaan dari pagi sampai sore.
Adakah hubungan celotehan saya ini dengan intermezzo di awal?
Rupanya, jika orang beragama tanpa compassion, ia tak bisa menghidupi agamanya sebagai berkah, tetapi sebagai capaian prestasi yang pantas dikoar-koarkan ke seluruh dunia. Lama kelamaan, ia menganggap orang lain yang tak seperti dirinya haruslah meniru dirinya dan orang lain itu mesti belajar dari dirinya sebagai orang yang sudah lama berkecimpung dalam capaian prestasi itu. Celakanya, bisa jadi di kepalanya juga berkembang anggapan bahwa agama lain tak secemerlang agamanya. Padahal, dia sama sekali tak tahu menahu apa yang terjadi dalam agama lain itu [gimana mau bikin klaim agama yang lebih atau tercemerlang?].
Bersyukur, tampaknya mudah, tetapi lihatlah betapa banyak orang yang tertipu: bersyukur dengan cara membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain! Bukankah syukur itu buah relasi pekerja dengan tuannya? Begitu ia mengalihkan relasinya dari tuannya, ia cuma bisa iri hati karena orang lain berbeda dari dirinya tapi kok tetap bisa memandang bulan yang sama.
Kalau iri itu hanya perasaan, mungkin masih oke dalam arti bisa dihandle, tapi kalau sudah sampai pada emosi, perkaranya bisa jadi rebutan cuan, lahan bisnis, monumen, prestise, politik kekuasaan dan senjata bisa nimbrung dan manusia tak lagi berharga.
Tuhan, mohon rahmat belas kasih dan rasa syukur mendalam atas berkat-Mu. Amin.
MINGGU BIASA XXV A/1
24 September 2023
Yes 55,6-9
Flp 1,20-24.27
Mat 20,1-16a
Posting 2020: Agama Wajib
Posting 2017: Byur Buang ke Laut
Posting 2014: Apa Enaknya Kerja?
