Permisi

Published by

on

Pagi ini saya dapati kartun yang menurut pendapat saya cukup jelas menyinggung judul posting minggu lalu: Rempang. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kalau cuma perkara sopan santun, tentu persoalan bisa dimediasi dengan permisi dan ganti rugi. Orang bisa saja menindas sesamanya dengan sangat sopan, sedemikian sopannya sampai-sampai yang ditindas tak merasa tertindas. Sekurang-kurangnya saya pernah berhadapan dengan tukang becak yang sangat lembut dan sopan dan saking lembutnya bahkan dia tak bisa menyebutkan harga yang dikehendakinya (selain frase “seperti biasanya saja”). Belangnya baru kelihatan ketika saya bayar “seperti biasanya saja” dan dia mengatakan kurang. Ini ketidakadilan individual dan reaksi saya [dalam hati], “Kowe ki pancen anak munyuk!” tanpa merasa diri kasar (karena memang kowe dalam bahasa Jawa adalah sebutan untuk anak monyet).

Ketertindasan seperti itu tidaklah berat buat saya, cuma rugi beberapa ribu rupiah; yang berat adalah membangun kepercayaan kepada mereka yang berpenampilan sopan, rapi, bertutur kata baik, alim, saleh, lembut, dan sejenisnya. Lain waktu, ketika ada tukang becak yang menjawab “seperti biasanya” gitu, saya langsung tinggal. Mendingan jalan kaki toh ya, wong cuma 200 meter dari stasiun.

Teks Injil hari ini sekilas tak terhubung dengan kasus ketidakadilan individual maupun ketidakadilan sosial. Akan tetapi, jika kita selisik konteksnya, kelihatanlah relevansinya. Perumpamaannya singkat, mengenai pokok yang sama dengan perumpamaan minggu lalu: kerja proyek Kerajaan Allah. Seorang bapak meminta dua anaknya untuk bekerja di kebun anggur. Yang pertama menjawab ya tetapi tak bekerja. Yang kedua menjawab tidak, tetapi njuk bekerja juga. Mengenai urutan ini, tampaknya ada perbedaan antara beberapa versi terjemahan.

Perumpamaan ini ditujukan bukan kepada mereka yang dikategorikan pendosa, pemungut cukai, pelacur, dan sebagainya. Ini diceritakan Yesus kepada para pemuka agama, yang tentu sekarang sudah tak ada lagi. Artinya, itu disodorkan kepada Anda dan saya, yang sekurang-kurangnya merasa atau meyakini sudah mengambil jalan benar.

Nota bene: orang Yahudi sudah paham kalau para rabi mereka bikin perumpamaan dengan menyebut bapak dan anak, itu mesti menyinggung sosok Allah dan bangsa Israel, yang mereka yakini sebagai anak sulung Allah. Dalam Perjanjian Lama, sekurang-kurangnya dicerminkan dalam narasi ketika Musa meminta penguasa Mesir melepaskan bangsa Israel: Allah meminta mereka melepaskan anak-Nya.
Bagi pendengar Yesus pada saat itu, “dua anak” itu sudah problematis karena bagi mereka, Allah hanya punya satu “anak”, yaitu bangsa Israel. Yang lain-lain tak terhitung sebagai anak; mungkin sebagai budak atau buruh harian. Dengan menyebut “dua anak” itu, Yesus memperhitungkan bangsa lain juga sebagai anak Allah. 
Artinya, anak-anak Allah itu ternyata ya macam-macam. Baik brengsek maupun alim bisa jadi anak-anak Allah juga. Tak ada yang dieksklusikan dari anak-anak Allah ini.

Dua model tanggapan terhadap harapan yang disampaikan bapa pemilik kebun anggur itu bisa jadi dua model orang beriman. Yang langsung tanpa pikir panjang menjawab “iya” bisa jadi gak ngerti sama sekali tuntutan yang terkandung dalam harapan bapanya. Setelah tahu konsekuensinya, malah tak melakukan apa-apa. Yang langsung menjawab “tidak” bisa jadi mengerti konsekuensi kerja sebagaimana diharapkan bapanya, tetapi menanggapinya dari perspektif refleks biologis semata. Orang otomatis menarik tangannya yang tersengat api, spontan ogah dijemur di lapangan, tak mau menanggung kesepian, dan seterusnya. Baru setelah mengerti makna kepanasan, ada apa di balik kesepian, dan seterusnya, orang bisa berubah pikiran, lalu malah melakukan apa yang semula dia tolak. Jadi, dua anak itu sebetulnya mengalami perubahan, meskipun arahnya berbeda.

Yang luput dari perhatian ialah bagaimana bapa pemilik kebun anggur itu mendekati anak-anaknya. Ia tidak menempatkan diri sebagai bos perusahaan yang perintahnya mesti ditaati. Ia adalah bapa dari anak-anaknya dengan sikap dasar yang jelas: kebun anggurku ya kebun anggurmu juga, Nak; jadi cobalah bekerja di sana supaya kamu mendapat feeling atau vibe yang kelak berguna kalau kalian menjadi pemiliknya.
Apa daya, seperti kebanyakan orang beragama, undangan bapa seperti itu dianggap datang dari bos yang punya aneka macam tugas dan aturan. Tak mengherankan, yang satu menjawab “Siap, laksanakan!” tanpa mengerti maksud bapanya yang menghendaki anaknya terlibat dalam proyek Kerajaan Surga itu. Yang lainnya spontan keberatan karena pekerjaan itu berat tanpa mengerti bahwa beratnya itu sebanding dengan apa yang akan dihidupinya.

Barangkali, keterlibatan itu kunci. Itu mengapa, permisi dan ganti rugi tak mencukupi. Mediasi mungkin perlu menyentuh dimensi keterlibatan, yang tidak bisa dihargai dengan nominal uang, seberapa pun besarnya. “Ya gak bisa maksa terlibat karena mereka berketrampilan dan berpendidikan rendah” “Ha lha iya dimensi keterlibatan itu termasuk Anda yang permisi itu memberdayakan mereka yang tak berdaya dong! Otherwise, itu penindasan ala imperialisme.”

Tuhan, mohon rahmat keberanian seperti Bunda Maria menjawab ya dan menanggung aneka konsekuensi untuk terlibat dalam proyek keselamatan-Mu. Amin.


MINGGU BIASA XXVI A/1
1 Oktober 2023

Yeh 18,25-28
Flp 2,1-11
Mat 21,28-32

Posting 2020: Ashiaaap Ogah
Posting 2017: Search Inside Yourself

Posting 2014: Walk Out Gak Eaaaa…

Previous Post
Next Post