Klaim

Published by

on

Tahukah Anda di mana sakitnya setiap kali Anda mendengar seruan bahwa Allah itu maha besar sementara di sekeliling Anda begitu kentara bahwa yang diyakini maha besar itu adalah cuan dan kekuasaan? Dapatkah Anda menengarai di mana posisi mak jlebnya khotbah tentang Kerajaan Allah di tengah-tengah kesibukan dan kerewelan orang-orang yang sedang membangun kerajaan agama? Saya merasakannya tetapi tidak dapat menunjukkan lokasinya.

Metafora dalam teks bacaan Injil hari ini begitu informatif mengenai sifat-sifat Allah, manusia, dan sesosok nabi. Akan tetapi, metafora ini bukan hasil lomba mengarang juga; ini sangat dekat dengan kenyataan hidup pada masa teks itu ditulis. Mungkin ada baiknya Anda baca dulu ceritanya sebelum mempertimbangkan tulisan ini. Mengenai Allah, cerita itu menyodorkan bagaimana Allah menaruh kepercayaan kepada manusia. Saking percayanya, Allah macam ini tidak menjalankan peran polisi untuk menegakkan aturan yang sudah disodorkan-Nya. Ia tidak buru-buru mengambil alih apa yang semestinya bisa dilakukan oleh hamba-hamba yang Ia percayai.

Tentu, bisa jadi, hamba itu manusia juga dan mungkin lalai atau teledor. Allah tak mengambil alih pekerjaan manusia. Alih-alih begitu, dengan sabar Allah ini mengutus nabi demi nabi, sampai akhirnya anak-Nya sendiri yang diutus. Tak perlulah berdebat di sini perkara anak-Nya karena ini adalah metafora. Dalam teks Perjanjian Lama tulisan orang-orang Yahudi, anak Allah itu adalah atribut untuk bangsa terpilih, yaitu Israel, yang dikeluarkan dari perbudakan di Mesir. Setelah sekian waktu, nabi yang tak asing dengan tradisi Yahudi itu mengambil atribut anak Allah itu, yang bukan lagi merujuk bangsa, melainkan manusia. Tentu, manusia yang terus bergumul memperjuangkan Kerajaan Allah tadi.

Apa daya, Kerajaan Allah, biar bagaimana pun, pastilah menantang kerajaan yang hendak ditegakkan oleh manusia lain yang mencari kemuliaan modal cuan dan kuasa itu. Tak mengherankan, jika ada anak Allah yang getol di situ, kematian terhitung sebagai salah satu konsekuensinya. Alur cerita macam itu menunjukkan betapa manusia punya privilese dan ia bebas memakai privilesenya, termasuk untuk menghabisi pewaris si empunya kebun anggur, alias bangsa Israel yang terpilih itu.

Memang susah juga, mosok privilese sebuah bangsa mengerucut pada satu orang! Sedemikian susahnya sehingga bangsa Israel itu tak mungkin menerima klaim yang disodorkan sosok nabi. Apa mau dikata, kebanyakan orang cuma berhenti pada klaim dan tidak melihat ada apa di balik klaim itu. Mengapa? Saya tak tahu, tetapi saya duga, melihat di balik klaim itu memaksa orang menanggalkan asumsi-asumsinya yang membuatnya merasa nyaman dan tak perlu repot-repot membongkar keyakinan semunya.

Jika hidup di sekitar tahun 30 dan mendapat info mengenai sepak terjang Yesus dari Nazareth, saya pun mungkin tak peduli dengan klaim yang disodorkannya. Yang saya pedulikan adalah integritas karakternya, dan itu kelihatan dari sepak terjangnya, bukan dari klaimnya atau bahkan dari kata-kata bijak atau nasihat rohaninya yang ces pleng. Kepedulian itu berfungsi juga sebagai pemantik bagi saya untuk melihat di balik sepak terjangnya ada apa, dan itulah yang semestinya saya hidupi atau saya perjuangkan. Ini tak pernah mudah bagi Anda maupun saya, karena di balik klaim yang dibuat Yesus itu jebulnya ada konsekuensi untuk berkorban.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan dan keberanian untuk menyelaraskan klaim kebenaran dengan kebenaran-Mu dalam sepak terjang kami. Amin.


MINGGU BIASA XXVII A/1
8 Oktober 2023

Yes 5,1-7
Flp 2,1-11
Mat 21,33-43

Posting 2020: Membunuh Tuhan
Posting 2017: Manusia Berkerobotan

Posting 2014: Yang Diceraikan Allah, Janganlah Dipersatukan Manusia

 

Previous Post
Next Post