Sekitar 20 tahun lalu saya terbengong-bengong oleh debat panas antara dua teman saya dalam pertemuan sekitar 15 orang penerima beasiswa. Semula saya tak begitu peduli dengan topik perdebatan mereka tetapi karena rupanya mereka punya pengalaman di lapangan, saya mulai berusaha memahami topiknya: Israel vs Palestina. Mereka berdua sama-sama bernaung dalam Gereja Katolik seperti saya. Yang satu untuk sekian lama hidup di jalur Gaza, yang lainnya juga cukup berpengalaman sebagai penduduk wilayah Israel. Menariknya, seorang teman yang beragama Islam sempat ikut dalam topik perdebatan tetapi kelihatan bahwa dia cukup berimbang melihat posisi Palestina dan Israel. Yang bertarung mati-matian malah dua teman yang Katolik. Yang satu mengkritik habis-habisan Israel, yang lainnya menyalahkan Palestina dengan kelompok garis kerasnya.
Sejak itu saya mulai mengerti bahwa Israel-Palestina bukanlah isu agama. Bahwa kemudian itu menjadi isu poligama alias politik agama dengan segala cuannya, yang juga bisa mengiringi isu poligami, Anda mungkin dapat memahami dan menjelaskannya secara lebih baik. Saya hanya punya modal kepercayaan kepada teman-teman yang punya pengalaman hidup di dua wilayah konflik. Cukuplah bagi saya mengambil perspektif solidaritas bagi semua, baik yang mayoritas maupun minoritas, jika kategori mayoritas-minoritas itu memang berterima.
Ada dua konsekuensi prinsip solidaritas ini. Pertama, tak ada yang dieksklusikan. Kedua, yang lemah atau minoritas diprioritaskan. Otherwise, yang terinjak-injak ini bakal mèdhèl atau mêcothot atau meledak atau apalah istilahnya, sedemikian rupa sehingga mereka ini tereksklusi dari kehidupan. Dalam isu Palestina-Israel, dengan demikian, yang minoritas itu bukan lagi Islam-Palestina (seakan-akan Palestina identik mutlak dengan Islam dan Israel identik dengan Yahudi), melainkan mereka yang tereksklusi dari hidup ini: para korban, baik di wilayah Gaza maupun Israel.
Dengan perspektif korban ini, perkaranya bukan kalkulasi berapa ribu mayat di pihak ini dan berapa kerugian material di pihak itu, melainkan bahwa solidaritas tak mungkin dibangun melulu dengan paradigma perang. Memang perang akan menguntungkan produsen senjata dan obat-obatan, yang bisa saja dibalut dengan slogan mulia berdasarkan agama atau antiterorisme. Akan tetapi, perang membungkam suara para korban, yang bahkan mungkin tidak menginginkan perang itu sendiri. Yang ribut gajah, yang mati pelanduk.
Di sini, sayangnya ada stereotyping Nabi Muhammad yang dicemplungkan dalam kategori pemimpin perang tanpa melihat konteks sejarah sehingga seakan-akan perang menjadi pilihan utama beliau. Cap ini tentu mengabaikan narasi bagaimana akhirnya Nabi Muhammad diterima kembali di Mekah tanpa berperang. Stereotyping tidak mencerminkan pribadi yang ditafsirkan, tetapi merefleksikan perspektif penafsirnya. Kiranya hal ini jelas dari ilusi optik yang bisa dijumpai dalam aneka gambar tanpa memicingkan mata atau setengah merem demi melihat pinjam seratus dulu.
Metafora dalam teks hari ini cocok dengan kebiasaan Yahudi dulu: undangan pesta manten misalnya, disampaikan secara bertahap. Undangan pertama bersifat informatif, meskipun belum detail, pokoknya nanti akan ada pesta manten si anu dan nganu. Detailnya baru akan disampaikan jika segalanya sudah siap. Pada saat itu, penyelenggara pesta mengutus kurir menyampaikan undangan pesta. Nah, metafora teks hari ini menunjukkan bagaimana tanggapan orang terhadap undangan itu.
Kerajaan Allah digambarkan sebagai undangan, bukan untuk berperang, melainkan untuk berpesta. Kelihatan bahwa mereka yang menolak undangan itu punya alasan yang masuk akal dan penting, tetapi seakan lupa bahwa yang masuk akal dan penting itu akan kehilangan dimensi pestanya jika tak menerima undangan pesta. Ini seperti tragisnya nasib buruh yang diberi label ‘dosen’ dan hidupnya habis untuk urusan administrasi atau organisasi dan tambah lagi ideologi pendidikan klas dunia (ROTFL alias guling-guling ketawa). We can be so busy making a living that we fail to make a life, kata Barclay.
Tak mengherankan, perang menggambarkan penolakan undangan pesta, kemerdekaan, yang adalah rahmat Allah sendiri. Perang juga menggambarkan bagaimana orang memenuhi undangan tanpa pakaian pesta. Perang adalah cara lama penyelesaian masalah. Dengan begitu, bisa juga dimengerti mengapa sejak Kain-Habel perang itu ya tak kunjung padam: karena rahmat Allah itu sekaligus tanggung jawab terhadap sesama. Paling gampang ya habisi sesama sehingga tak ada tanggung jawab lagi. Solidaritas itu omong kosong.
Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin mampu bertanggung jawab atas hidup bersama kami dalam suasana pesta (demokrasi?). Amin.
MINGGU BIASA XXVIII A/1
15 Oktober 2023
Yes 25,6-10a
Flp 4,12-14,19-20
Mat 22,1-14
Posting 2020: Omnibus Loh
Posting 2017: Pintar Peduli
Posting 2014: Sensi Itu Ada Gunanya
