Pintar Peduli

Anda yang merasa diri pintar tak perlu merasa tersinggung oleh kata-kata yang dilekatkan pada Ahok seperti terpajang dalam featured image hari ini: Kita tidak butuh lagi orang pintar. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang peduli terhadap sesama. Tentu saja, kalau Anda pintar, Anda hanya tinggal mengembangkan kepedulian kepada sesama dan pernyataan tadi tidak akan menyinggung Anda: sudah pintar, peduli pada sesama pula! Orang macam Anda ini pasti dibutuhkan, bukan sampah yang mesti dibuang orang bodoh dari mobilnya dan bikin perkara dengan pengendara motor yang terkena sampahnya itu. [Heran, kok kata ‘bodoh’ itu muncul lagi sih?]

Kepedulian sejati terhadap sesama muncul dari tanggapan bebas terhadap undangan yang diceritakan dalam bacaan hari ini. Ceritanya sederhana, cuma perumpamaan tentang Kerajaan Surga yang dianalogikan dengan raja yang mengundang orang untuk pesta perkawinan anaknya. Anehnya, tidak ada orang yang mau datang ke pesta raja mereka, bahkan sampai ada yang membunuh utusan raja yang menyampaikan undangan pesta itu!

Tentu saja, cerita itu rada aneh; bagaimana mungkin orang diundang pesta pimpinan kerajaan kok bisa tidak memedulikannya? Untuk mahasiswa atau anak-anak asrama, ini pastilah perbaikan gizi; mosok mau menolaknya?

Saya lebih tertarik pada soal bagaimana sang raja itu menyampaikan undangan pestanya. Meskipun dia memberi kesan bahwa ia ingin semua orang ikut pesta, tak ada unsur paksaan dari dirinya, seolah ia berkata,”Ini loh ada makan bersama, enak-enak, gratis. Kamu mau gak?” Ia menunjukkan sesuatu yang baik dan menawarkan kepada orang untuk menikmatinya.

Akan tetapi, justru itulah persoalannya. Kebaikan yang ditawarkan raja itu bisa jadi sesuatu yang menuntut komitmen seseorang, termasuk juga dalam hal berpakaian pesta. Karena ini adalah perumpamaan, tentu tak perlu menangkapnya secara mentah bahwa yang persoalannya ada pada tata krama berpakaian pesta. Undangan raja, betapapun bagi orang yang menggelandang, betapapun bebas untuk menerima atau menolaknya, memuat komitmen, keterlibatan mereka yang menanggapai undangan itu secara positif.

Apa boleh buat, memang tak sedikit orang pintar yang rupanya kurang menggunakan kepintarannya untuk mewujudkan kepeduliannya terhadap sesama. Kepintaran malah dipakai untuk memperkaya diri atau keluarga sendiri.

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya kepedulian kami terhadap-Mu sungguh terwujud dalam kepedulian kami terhadap sesama. Amin.


MINGGU BIASA XXVIII A/1
15 Oktober 2017

Yes 25,6-10a
Flp 4,12-14,19-20
Mat 22,1-14

Posting Tahun 2014: Sensi Itu Ada Gunanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s