Jomblo Enak Gak Eaaa…

Ada banyak teman saya yang jomblo. Sebagian darinya happy, sebagian lainnya sangat happy. Sebagian kecil merasa ‘iri’ jika melihat pasangan yang mesra dan kelihatan sukses sebagai keluarga dan dia sendiri jadi ragu-ragu dengan status jomblonya. Ini adalah sebagian kecil yang berseberangan dengan saya. Saya justru semakin mantap dengan kejombloan saya manakala melihat mereka yang married sungguh happy dengan status mereka, dan bukannya cuma sekadar hura-hura romantis ala makhluk kasmaran sementara relasi antarpribadi bertopeng berantakan.

Bacaan hari ini masih saya lihat dengan sudut pandang seperti kemarin: orang yang sirik atau iri terhadap kebaikan orang bagi hidup bersama. Ceritanya singkat: ada ibu yang mengungkapkan betapa bahagianya seorang ibu yang punya anak seperti Yesus ini yang bak selebritis begitu dikenal di sana sini dan punya kemampuan yang hebat pula. Taruhlah ibu ini tak punya keirihatian secuil pun, toh di balik pernyataannya ada semacam keyakinan bahwa menyatakan kehebatan anak secara otomatis memuji orang tuanya juga yang telah mendidik anak hebat itu.

Di satu sisi memang seperti dikatakan Yesus di lain waktu, dari buahnyalah diketahui kualitas kesehatan pohonnya. Di lain sisi, pada kenyataannya hidup tidak mesti berjalan seperti itu: ada saja orang hebat yang berasal dari keluarga broken. Yesus cuma mau mengatakan faktor determinan yang membuat seseorang jadi baik atau buruk dan faktor itu adalah, lagi-lagi, Sabda Allah yang dipelihara dan dikembangkan dalam hati setiap orang. Jadi, apa pentingnya memuji ibu atau orang tua Yesus karena kehebatan yang dibuat Yesus? Ya entahlah, mungkin ungkapan basa-basi atau ungkapan keirihatian tadi: kok dia punya anak sehebat itu sedangkan aku tidak.

Kalau begitu, barangkali memang Sabda Allah itu juga menjadi faktor determinan apakah orang bisa krasan dengan status jomblo forever, married, jandu cerai-mati. Artinya, kalau orang berkomitmen mengambil status-status itu tadi karena mendengarkan Sabda Allah, menggumuli hidup dalam terang Allah, ia happy dengan hidupnya, tidak uring-uringan, tak juga diam-diam menyalahkan situasi. Di luar itu mah… namanya nasib deh.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu meniti hidup kami bersama-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXVII A/1
14 Oktober 2017

Yl 3,12-21
Luk 11,27-28

Sabtu Biasa XXVII C/2 2016: Revolusi Spiritual
Sabtu Biasa XXVII B/1 2015: Gosip Ah…
Sabtu Biasa XXVII A/2 2014: Lebih Baik dari ASI, Adakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s