Keluarga Kudus

Published by

on

Anda, mahmud pahmud, mungkin bisa menengarai perbedaan antara status pengantin baru dan orang tua baru. Saya tidak bisa menengarainya dari pengalaman, tetapi mungkin malah secara teoretis lebih gampang mengerti bagaimana menjadi mahmud dan pahmud.

Mari kita buktikan. Pertama-tama, Anda perlu menjawab pertanyaan: dengan kelahiran anak baru, siapakah yang layak disebut papah, mamah, dan anak? Gampang, kan, jawabnya? Saya bapaknya, Rom, dan istri saya ini ibu anak kami!
Ya betul! Itu tak beda dari bagaimana Anda menengarai keluarga sapi. 

Selanjutnya, ini pertanyaan sedikit lebih sulit tetapi tetap gampang dijawab: apa yang membuat Anda menyebut diri sebagai bapak, dan istri Anda sebagai ibu dari sang anak?
Saya duga Anda menjawabnya dengan perspektif gender: karena saya laki-laki, saya jadi bapak, dan istri disebut ibu karena perempuan. Jawaban itu problematis, tapi ya sudahlah tak usah saya persoalkan.

Ini pertanyaan terakhir yang sulit: bisakah sang anak yang lahir dari rahim Anda atau istri Anda itu disebut orang tua?
Saya duga Anda menjawabnya dengan perspektif genetik atau linguistik: ya gak bisa, wong saya disebut papah justru karena tua dan anak saya itu baru saja lahir, mosok langsung jadi orang tua?!
Tentu, jawaban itu tidak keliru, cuma ya seperti di awal tadi, itu tak beda dari menengarai keluarga sapi. Maaf, tak perlu Ge eR, saya tidak menyamakan Anda dengan sapi; tapi jawaban yang demikian ini membuktikan bahwa jebulnya soal keluarga tak sesederhana yang bisa Anda bayangkan.

Saya mulai dari pertanyaan terakhir. Jawaban saya kiranya sama dengan jawaban Anda, tetapi berbeda alasannya. Anak yang Anda lahirkan atau Anda tunggui kelahirannya itu tak bisa disebut orang tua karena dia memang bukan orang tua, melainkan, secara teoretis, anak Allah.

Anak Allah ya anak Allah, bukan orang tua. Orang tuanya: Allah; dan Anda tahu bahwa Allah, meskipun Anda sebut Bapa, tak bergender seperti jawaban Anda terhadap pertanyaan kedua tadi. Dia disebut Bapa bukan karena laki-laki, dan konon dalam bahasa kuno, Bapa itu justru mencirikan kualitas kerahiman. Bukankah itu ranahnya perempuan? Nah, ribet kan kalau pakai perspektif gender…

Dengan demikian, keluarga yang disebut kudus itu tak lain adalah keluarga yang orang tuanya Allah sendiri. Anggotanya bisa menjalankan peran sebagai pahmud atau mahmud atau anak, tetapi peran-peran itu baru bisa dijalankan jika mereka ini terlebih dahulu menerima diri sebagai anak Allah.

Itulah yang tadi saya bilang, secara teoretis saya lebih gampang mengerti bagaimana menjadi pahmud dan mahmud: Anda tidak berlagak bahwa anak Anda adalah bawahan Anda yang mesti Anda kontrol; Anda tidak menghidupi relasi hirarkis dan feodal seakan-akan Andalah penguasa hidup anak Anda. Sebaliknya, dalam suasana egaliter, Anda menghayati hidup sebagai anak Allah, juga dalam relasi dengan anak-anak Anda. Semakin Anda, suami/istri, anak-anak Anda bertumbuh sebagai anak-anak Allah, semakin keluarga Anda disebut kudus, bahkan meskipun tidak berasal dari Kudus atau tinggal di Kudus. Kekudusannya terletak pada penempatan relasi keluarga dalam hubungannya dengan “orang tua asli” Anda. Indikatornya: relasi itu menumbuhkan iman, harapan, dan cinta. Ini bukan lagi perkara agama ini itu.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan supaya kami dapat bertumbuh dalam iman, harapan, dan cinta-Mu. Amin.


PESTA KELUARGA KUDUS: YESUS, MARIA, YOSEF
Minggu, 31 Desember 2023

Kej 15,1-6;21,1-3
Ibr 11,8.11-12.17-19
Luk 2,22-40

Posting 2020: Rel Tuhan
Posting 2017: Mendidik Anak Allah

Posting 2014: Kiblat Hidup Keluarga

Previous Post
Next Post