Rel Tuhan

Dibutuhkan hati yang murni dan tulus untuk melihat apa yang tidak dilihat kebanyakan orang lain dan untuk mengungkapkannya. Memori saya menunjuk pada kisah Hans C. Andersen yang berjudul The Emperor’s New Clothes. Anak kecillah yang melihat kenyataan apa adanya dan berseru-seru sehingga orang banyak akhirnya juga melihat kenyataan apa adanya, yaitu bahwa raja mereka tak memakai sehelai pakaian pun.

Kemurnian dan ketulusan hati itu dalam teks bacaan hari ini digambarkan pada sosok Simeon, seorang nabi yang sekian lama menantikan kedatangan Mesias. Dia melontarkan kidung pujian yang saya sukai, yang termuat dalam ibadat penutup harian: sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu. Pendarasan kidung ini memberi ketenangan. Sedemikian tenangnya, sehingga bahkan jika setelah pendarasan kidung itu saya tak bangun lagi keesokan harinya, tidak ada ketakutan atau kekhawatiran yang melingkupinya. Apa mau dikata, untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini saya mendapat berita duka, dan kidung Simeon ini seakan saya letakkan dalam jiwa mereka yang sudah mendahului saya.

Apa hubungannya karakter Simeon ini dengan pesta Keluarga Kudus yang dirayakan Gereja Katolik hari ini? Hubungannya mungkin bisa dilihat juga dari kidung yang didaraskan tadi: Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu. Kekudusan keluarga Maria dan Yusuf tidak terletak pertama-tama pada kesalehan privat mereka masing-masing, tetapi pada ikhtiar mereka untuk hidup “menurut Sabda-Mu”. Ini sekaligus undangan bagi semua umat beriman: mengupayakan pilihan-pilihan hidup di atas rel yang disediakan Allah, alih-alih membuat percabangan rel seturut keinginan sendiri.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati supaya pilihan hidup kami senantiasa berada di atas rel Sabda-Mu. Amin.


PESTA KELUARGA KUDUS: YESUS, MARIA, YOSEF
(Hari Ketiga dalam Oktaf Natal Tahun B)
Minggu, 27 Desember 2020

Kej 15,1-6;21,1-3
Ibr 11,8.11-12.17-19
Luk 2,22-40

Posting 2017: Mendidik Anak Allah
Posting 2014: Kiblat Hidup Keluarga

1 reply

  1. The Last Samurai berkisah tentang dua pejuang, Tom Cruise (veteran perang) dan Ken Watanabe (prajurit samurai). Budaya yang berbeda mengasingkan mereka, namun nilai2 menjadikan mereka sebagai kawan. Dalam novel La Peste (The Plague) Albert Camus, ketika diserang wabah tak terkendali, populasi modern yang konon sebelumnya saking sibuknya bahkan tidak menyadari mereka masih hidup, bangkit dari diri mereka sendiri memecahkan kesenjangan dan keterasingan yang menjadi ciri khas keberadaan mereka.
    Dunia setelah dilucuti dari romantisme umumnya, ternyata menjadi tempat yang asing, aneh dan tidak manusiawi, semuanya berakhir dalam metafora. Dan waktu adalah awal dan akhir dari segalanya, sebuah jam yang detaknya hanya bergerak maju, tidak memihak, juga tidak tertarik dengan impian dan rencana kita. Ok, kita sudah menemukan tokoh antagonisnya. Lalu siapa tokoh protagonisnya. Manusia. Semua orang tidak terkecuali diajak menjadi tokoh protagonis, semua orang berjuang, dengan karakternya masing2. Tokoh Protagonis di sini memiliki karakter positif, seperti baik, ramah, pemberani, jujur, dan penuh kasih sayang. Ini bukan bunuh diri filosofis, tapi hanya merangkul absurditas dalam berjuang melawan penderitaan dan kematian. Semoga Tuhan memberkati kita.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s