Mati Gaya

Saya tidak yakin bahwa hidup beriman bisa dipahami tanpa kepercayaan pada peran Roh Kudus, apa pun labelnya. Dalam kekristenan, tanpa Roh Kudus itu, hidup keagamaan orang cuma penuh dengan ritual dan hukum moral, tetapi tak ada élan vital. Ini istilah Henri Bergson yang bolehlah dimengerti sebagai daya (dorong) hidup. Daya hidup ini lebih determinan daripada gaya hidup. Mungkin bisa dikatakan daya hidup ini menentukan keberlangsungan gaya hidup orang. Ambillah contoh atlet pembalap yang punya daya hidup yang baik. Ia akan mampu beradaptasi dan mengoptimalkan fungsi kendaraannya; kalau perlu, ia bahkan bisa mengubah gaya balapnya. Mati gaya, tapi berdaya.

Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta martir pertama, Santo Stefanus, yang menyerahkan daya hidupnya kepada Sang Sumber Kehidupan. Ia mati di tangan mereka yang merajamnya sembari menutupi telinga mereka. Ini adalah simbol ketertutupan hati mereka yang tak mau mendengarkan hikmat yang diwartakan dan dipersaksikan Stefanus. Memang, hikmat orang yang daya hidupnya connect dengan Roh Kudus menjadi skandal, kebodohan bagi mereka yang hanya terpaku pada gaya hidupnya sendiri. Karena itu, Stefanus jadi bulan-bulanan mereka yang tak sanggup mendengarkan hikmat dan menanggapinya secara brutal.

Teks bacaan hari ini sendiri adalah bagian dari diskursus mengenai misi. Kalau dibandingkan dengan hari raya kemarin, ini adalah ujung lain dari misteri kelahiran; seakan-akan orang beriman diingatkan bahwa inkarnasi Allah secara rohani dalam diri setiap orang beriman bisa berujung pada penderitaan dan bahkan kematian. Bukan sisi negatif penderitaan atau kematiannya sendiri yang penting, melainkan sisi positif kesaksiannya: penderitaan dan kematian sebagai momen untuk menunjukkan mana yang sungguh esensial bagi hidup beriman. Terhadap kesaksian ini, orang beragama memang bisa tutup telinga dan mengandalkan gaya hidupnya sendiri. Sesungguhnya ia mati gaya, tetapi malah menghakimi gaya hidup lain, sebisa mungkin melenyapkannya dari muka bumi ini.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hari supaya daya hidup kami senantiasa terhubung dengan Roh Kudus-Mu dan tiada ketakutan yang dapat merenggut hidup kami dari kekuatan-Mu. Amin..


HARI KEDUA OKTAF NATAL
Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama
26 Desember 2020, Sabtu

Kis 6,8-10; 7,54-59
Mat 10,17-22

Posting 2019: Sahabat Semua
Posting 2018: Hancurkan Sekat

Posting 2017: Natal Gombal

Posting 2016: Kerja Lageee…

Posting 2015: Kesempatan Sempit

Posting 2014: Orang Baik Mati, Kebaikan Tidak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s