Hancurkan Sekat

Tidak sekali dua kali saya mendengar bagaimana seseorang yang sungguh beriman mengalami persekusi sehingga saya sampai pada kesimpulan bahwa salah satu tolok ukur keberimanan seseorang ialah ada tidaknya persekusi. Wah, sadis banget kesimpulannya! Sepertinya begitu, tetapi memang begitulah kenyataannya. Ini bukan soal kategori agama mayoritas-minoritas. By the way, content blog ini pada umumnya tidak bisa berbunyi jika dibaca dengan framing agama sebagaimana pada umumnya dimengerti, karena memang saya menulisnya bukan dengan framing agama, melainkan iman. Perkara iman saya bedakan dari agama, itu masih bisa diperdebatkan, tetapi pokoknya diandaikan dalam blog ini bahwa agama merepresentasikan iman yang berkelindan dengan kultur. Iman tanpa kultur pada hakikatnya [adalah] mati.

Sudah sejak lama saya tahu bahwa jenjang karir pekerjaan orang bisa dihambat semata-mata karena ia Katolik. Wujud hambatannya bisa bermacam-macam, mulai dari yang halus sampai kasar, mulai dari yang bersifat intimidatif sampai teror yang vulgar.
Apakah yang seperti itu cuma terjadi pada penganut ‘agama minoritas’? Jelas tidak, karena problem konfliknya tidak terletak pada imannya, melainkan pada elemen-elemen kulturalnya. Berikut
saya bagikan sharing dari saudara jauh yang saya kira beragama Islam. Silakan cari dan kiranya Anda temukan persekusi implisit dalam pengalaman saudara ini.

Semalam saya ikut sahabat lama, misa Natal di Mardi Waluya Bogor. Sejak masuk hingga akhir, agak-agak tahan napas karena tegang. Bagaimanapun saya berasa alien disana: berkerudung di tengah misa Natal. Selebihnya saya menikmati. Beberapa orang berjaga di luar, karena “bagaimanapun ancaman bom selalu ada”, bisik seseorang. Sayapun meresapi, membayangkan sholat jamaah di masjid dengan ancaman bom. Empati itu bagai kendaraan jiwa: kita diajak merasakan, experient, perjalanan jiwa-jiwa lain. Dan pengalaman itu tambang emas bagi perjalanan jiwa.
Siang ini saya ikut misa dalam bentuk lain: makan siang Natal di Seminari Pejaten. Bersama teman-teman Gusdurian, jamaah seminari, gereja, individu2 berbagai agama, melayani makan siang lansia & keluarga-keluarga kurang mampu berbagai agama. Saya jadi sahabat meja no 25: mendorong kursi anak2 kecil lebih dekat ke meja supaya nyaman menyendok nasi, menggendongkan bayi supaya ibunya bisa makan. Piring2 ayam, bakso, sate, perkedel diedarkan. Hadiah dibagikan. Ini perayaan Natal paling membahagiakan. Kenapa?
Kenapa harus ke gereja? Ikut Natal?
Bagi sahabat2 yang yakin bahwa mengucapkan selamat Natal haram, masuk ke gereja haram, apalagi ikut Natal super haram, ya jangan. Ikuti keyakinan Anda. Saya akan membela hak Anda untuk tidak dipaksa pakai topi Natal, misalnya. Tapi saya periksa isi kepala dan hati saya, saya tidak meyakini ucapan Natal haram, topi Natal akan mengganggu iman saya, atau ikut misa Natal berarti menerima bahwa Kristen/Katolik adalah agama benar juga dan karenanya meragukan bahwa satu-satunya yang benar adalah Islam. Saya tidak meyakini begitu. Kalau A benar, tidak berarti A-inverse (semua yang diluar A) otomatis salah. Ini satu logika yang sulit sekali diterima kebanyakan muslim.
Tapi kenapa sih sampai harus ikut misa Natal?
Pertama, saya sedang memecahkan lapisan bernama frame biased di kepala saya. Suatu norma kuat yang entah kapan terbentuk di kepala saya, yang membuat melangkahkan kaki ke misa Natal ibarat menceburkan diri ke tengah laut. Padahal bukan itu keyakinan saya. Suster dan pastor menyapa, senang ya mbak bisa ikut misa. Mungkin saya juga sedang memecahkan frame biased di banyak kepala lain. (Apakah ada resiko? Banget. Dengan memecahkan frame biased di kepala saya, pecah pula beberapa pertemanan, sahabat2 muslim yang tidak bisa menerima sikap begini. Satu kesakralan besar saya langkahi).
Kedua, karena Cinta. Inti agama akhirnya hanya satu. Kemanusiaan. Humanisme. Kemanusiaan yang memperjalankan dirimu menuju Tuhan. Teman-teman bisa nonton film The Sultan and The Saint, perjumpaan spiritual Sultan Al Maliki dan St Francis Assisi berlatar belakang perang salib. Paska perjumpaan tsb, Sultan Al Maliki, alih-alih bisa menghancurkan musuh pasukan kristen dalam semalam, dia memilih membagikan roti dan minuman pada musuh yang terjebak. St Francis, berkukuh menentang perang Salib, kemudian menuliskan testamennya yang terkenal: berdoalah, pada dasarnya semua orang rindu berdoa. Keduanya merasakan pahit sepahit-pahitnya ketika kebencian pada liyan, demonisation (menganggap yang liyan itu demon, buruk), diwariskan sejak kecil, lalu dipanen sebagai api untuk kepentingan politik. Keduanya memberontak dan memilih menghancurkan tembok2 pemisah.
Pada kehadiran di misa Natal, kehadiran di makan siang Natal, saya dan sahabat-sahabat muslim ingin ikut meruntuhkan tembok-tembok yang terbangun tanpa kami inginkan. Karena keber-Islam-an yang saya pilih adalah keber-Islam-an humanis, cinta pada sesama. Damai di Bumi. Selamat Natal ♥ ditulis oleh Chitra
.


HARI KEDUA OKTAF NATAL
Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama
Rabu, 26 Desember 2018

Kis 6,8-10; 7,54-59
Mat 10,17-22

Posting 2017: Natal Gombal
Posting 2016: Kerja Lageee…

Posting 2015: Kesempatan Sempit

Posting 2014: Orang Baik Mati, Kebaikan Tidak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s