Belajar Melihat

Saya tidak begitu gembira menyambut kedatangan anak baru di dunia ini ketika memproyeksikan hidup ke depan, yang tidak semakin mudah. Ini bukan soal bayi A karena lahir di lingkungan keluarga miskin lantas akan mengalami kesusahan di masa mendatang. Ini soal kesulitan struktural yang membelit bahkan mereka yang berlatarbelakang keluarga milyarder. Aktivitas Anak Krakatau yang meningkat tentu bisa membuat cemas orang-orang yang ada di pesisir pantai di dekatnya, tak pandang bulu ekonominya. Milyarder bisa dengan lebih mudah lari ke tempat yang lebih aman, entah di dalam negeri maupun di luar negeri. Akan tetapi, itu tetap tidak menghapus fakta adanya kecemasan, malah bisa jadi menunjukkan minimnya solidaritas sosial jika sang milyarder cuma pikir diri sendiri.

Pun kalau orang bisa menghindar dari potensi ancaman geografis tertentu, selama ia hidup di bumi ini dan tidak cari perkara baru di Mars atau batu luar angkasa lainnya, ia takkan dapat lari dari problem struktural yang menimpa semua orang tanpa pandang bulu ekonomi, religius, suku, dan sebagainya: global warming. Problem ekologi ini tak bisa dipecahkan dengan pendekatan individual, tetapi mesti masuk dalam struktur. Cobalah Anda sendiri melakukan gerakan untuk tidak menggunakan plastik sama sekali, misalnya. Itu tentu baik, bisa menunjukkan karakter Anda yang melawan arus generasi yang kurang peka terhadap dampak negatif teknologi, tetapi kalau itu cuma gerakan kesalehan individual, sebagai suatu tanggapan, itu tidak mengimbangi tantangan yang bersifat global. Perlu ada kebijakan yang memengaruhi gerakan individual supaya lebih sepadan dengan tantangan yang gelombang datangnya lebih cepat.

Sayangnya, kebijakan struktural itu juga akhirnya berurusan dengan kualitas individu-individu yang berpengaruh dalam struktur. Nah, ribet deh kalau sudah masuk dalam lingkaran ini. Dengan itu pula saya memandang peristiwa kelahiran Guru dari Nazareth. Natal bukan lagi soal perayaan romantis kelahiran bayi, apalagi yang dibumbui dengan kategori agama Kristen/Katolik dan aneka pernak-pernik bisnisnya (kandang, gua, pohon), melainkan soal reminder bagaimana orang masuk dalam struktur kedosaan manusia universal. Tak usahlah memberi label bahwa ini pendekatan agama Katolik mengenai dosa asal atau dosa struktural. Semua makhluk-baru masuk dalam struktur macam begitu yang kelak bisa menciptakan salibnya. Nah, nongol lagi salib dan mungkin label kekristenan ditempelkan segera, tetapi salib bukan perkara kekristenan. Ini perkara menanggung konsekuensi kalau orang sungguh menyuarakan dan menghidupi kehendak Allah yang terus menerus disodorkan sepanjang sejarah manusia.

Teks bacaan hari ini, yang dipakai untuk memestakan Santo Yohanes, adalah kutub lain dari kelahiran bayi: padanya tertera insting challenge-response, yang dalam perkembangannya, kalau ia sungguh dewasa dalam iman, survivalnya bukan lagi semata bermotif memanjangkan umur atau nafas, melainkan memanjangkan kabel cinta Allah; dan itu pasti menanggung kesulitan yang tidak remeh. Mengenai ini sudah saya singgung kemarin pada posting Hancurkan Sekat. Hari ini, kata “melihat dan percaya” menegaskannya: orang berimanlah yang mampu menghancurkan sekat karena dialah yang bisa “melihat dan percaya”. Mengenai kata ‘melihat’ sudah saya uraikan dalam posting Bumi Datar Ya Ampun dan Learning by Nyemplung, misalnya.

Tuhan, semoga semakin banyak orang dapat ‘melihat’. Amin.


PESTA SANTO YOHANES PENGINJIL
(Hari Ketiga dalam Oktaf Natal)

Kamis, 27 Desember 2018

1Yoh 1,1-4
Yoh 20,2-8

Posting 2017: Klik Share Dong
Posting 2016: Awas Nyangkut

Posting 2014: Akselerasi Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s