Learning by Nyemplung

Saya tayangkan tweet Paus Fransiskus, pasti bukan untuk menunjukkan kepada Anda bahwa saya mahir berbahasa Italia.
 Sewaktu itu saya masukkan dalam Google Translate, begini hasilnya: Tidaklah cukup mendengarkan ajaran agama atau belajar doktrin; Yang kita inginkan adalah hidup seperti Yesus hidup. Saya tidak mengoreksi terjemahan itu, semoga maksudnya bisa ditangkap; kalau tidak, silakan tanya pada pengelola Google Translate.

Saat belajar doktrin atau ajaran agama, Anda cenderung mendistingsi diri Anda dari orang yang belajar doktrin atau ajaran agama lainnya, bukan? Ngaku aja deh! Benih eksklusivisme ada di situ. Saya tidak mengatakan bahwa orang yang belajar agama itu eksklusif, tetapi benih eksklusivisme ada di sana, sewaktu Anda belajar doktrin atau agama yang tidak diyakini atau dipeluk orang lain. 

Lain soalnya kalau Anda belajar hidup sebagaimana Yesus (dulu) hidup. Anda mesti mempertimbangkan perjumpaan dengan liyan karena Yesus pun dulu mengalami perjumpaan dengan liyan; bukan hanya berbeda, melainkan juga bahkan jadi lawan. Sayangnya, Yesus ini kok ya meskipun belajar agama atau doktrin tetapi tidak juga eksklusif. Kok bisa ya? Bisa, karena dia mempertimbangkan kaum lemah dan tersingkir. Dugaan saya, dia suka menganalisis kenyataan sosial dengan pertanyaan “Siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan?” Tapi itu cuma dugaan, prejudice, prasangka saya. Apakah dia hobi bertanya-tanya seperti itu ya mboh.

Dalam teks bacaan hari ini ditunjukkan bahwa ada sekelompok orang yang ingin melihat makhluk seperti apakah guru yang disebut Yesus itu. Dalam posting Bumi Datar Ya Ampun sudah saya singgung dua nuansa kata ‘melihat’: blepo dan horao (h-nya tak usah jelas-jelas, apalagi kalau habis makan jengkol). Blepo itu kata kerja melihat hal-hal yang eksterior, penampakan luar yang semua orang bisa melakukannya tanpa analisis macam-macam; cukup asalkan punya mata yang bisa berkedap-kedip atau kriyap-kriyip. 

Dalam bacaan hari ini dipakai kata horao: melihat kedalaman, hal yang ada di balik penampakan luar, melihat identitas pribadi seseorang, kebenarannya. Jadi, orang-orang Yunani yang ingin melihat si guru itu pasti bukan sekadar kepo latah mengenalnya. Ini bukan seperti kalau orang membawa buku dan minta tanda tangan pada artis atau figur publik lain. Mereka punya keinginan sungguh-sungguh untuk mengerti sosok pribadi guru ini. Mereka tentu sudah dengar kabar mengenai si guru ini dan sekarang hendak mengenalnya sungguh-sungguh karena tampaknya ada hal yang mereka yakini bisa menuntun hidup mereka.

Bagaimana mereka mengupayakannya? Mereka bilang pada murid Yesus: Filipus, mungkin karena namanya berbau-bau Yunani. Langsung bisa melihat si guru? Tidak. Filipus tanya dulu pada murid lainnya: Andreas. Keduanya lalu omong pada sang guru. Apa tanggapan si guru ini? Dia malah bahas soal pemuliaan, peninggian, yan sudah saya singgung pada posting minggu lalu (Hidup Yang Dihadiahkan). Artinya apa? Kalau mau mengenal pribadi guru ini, memang orang mesti ngerti misteri penderitaan dan menceburkan dirinya dalam misteri itu. 

Kalau sudah sampai situ, ortodoksi tidak memadai. Belajar agama, belajar doktrin tidaklah cukup. Orang mesti mengerti hidup guru ini juga dari praktik kemuridan, jadi murid, learning by doing, dan seterusnya. Semoga semakin hari kita dimampukan untuk menjadi murid dari guru bagi semua bangsa. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA V B/2
18 Maret 2018

Yer 31,31-34
Ibr 5,7-9
Yoh 12,20-33

Posting Tahun 2015: Sepi dalam Ramai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s