Hidup Yang Dihadiahkan

Konon seorang rabi Yahudi diduga tak ingin diketahui publik dalam pertemuan pribadinya dengan guru dari Nazareth. Ya apa kata orang nanti kalau tahu bahwa tokoh Yahudi bersilaturahmi dengan Yesus yang jadi pergunjingan negatif para pemuka agama? Maka tak heran bahwa dia datang malam-malam, supaya tak ketahuan. Akan tetapi, tetangga jauh saya yang ahli teks meyakinkan saya bahwa itu bukan alasan Nikodemus berkunjung pada malam hari.

Tak perlu membayangkan bahwa semua orang Farisi memusuhi Yesus. Nikodemus adalah salah satu orang Farisi yang punya sikap terbuka dan karenanya datang kepada Yesus. Kenapa malam hari? Ya memang itulah waktu pemuka agama Yahudi merenungkan, mendoakan, mempelajari Sabda Tuhan di malam hari. Pada masa itulah mereka mengapropriasi pesan dari teks Kitab Suci, alih-alih nonton sinetron, eaaaa (mungkin nonton sinetronnya di pagi hari ya). Bayangkanlah misalnya saudara-saudari yang menjalankan shalat tahajud. Ini dilakukan pada tengah malam dan hanya mungkin dilakukan oleh orang yang sungguh dari hatinya hendak membangun keterpautan dengan Allah sendiri. Kalau terpaksa, mungkin malah tak berpahala.

Nikodemus barangkali diminta teman-temannya (yang juga punya sikap terbuka) untuk mengerti sosok guru kontroversial ini. Dalam teks hari ini disampaikan analogi tentang kata dasar tinggi. Dalam bahasa Jawa tinggi adalah binatang yang nylekit, bisa bikin bentol kulit yang digigitnya. Dalam bahasa Indonesia tinggi ya jelaslah artinya. Ini soal posisi. Meninggikan ya berarti membuat posisi lebih tinggi dari sebelumnya.

Akan tetapi, wacana peninggian yang disodorkan si guru ini rupaya berbeda sama sekali dengan imaji peninggian yang bisa kita bayangkan sekarang ini. Referensi peninggian ini adalah peninggian salib tempat sang guru mengakhiri hidup badani. Memang, ada versi lain yang mengatakan bahwa si guru ini tak sampai mati di salib. Akan tetapi, entah mati di salib atau tidak, peninggian tadi tetaplah merujuk pada konsekuensi kesusahan, penderitaan, kesepian, luka, kesakitan yang amat sangat. Ini bukan peninggian yang diasosiasikan dengan kegampangan, kemulusan, keenakan, kenikmatan hidup badani, entah fisik ataupun psikis.

Peninggian itu, dari pihak Allah, ialah pemuliaan hidup orang yang didonasikan bagi cinta kepada manusia lainnya. Dari pihak manusia, itu adalah titik tertinggi dari kehidupan yang autentik: hidup kekal. Loh, wong luka, sakit, menderita kok malah hidup kekal? Berarti penderitaan tak kunjung usai dan baru kelar setelah mati gitu? Bukan begitu, Boss. Hidup kekal bukan perkara masa depan bagaimana, melainkan perkara bagaimana orang berhadapan dengan masa sekarang ini, yang konkret di hadapannya, yang menyodorkan pilihan berganda dan masing-masing punya konsekuensi kesusahannya.

Hidup kekal jadinya adalah hidup yang tak tergoyahkan atau terhancurkan oleh ular-ular berbisa yang memagut orang supaya kerasukan semangat peninggian manusiawi: medali, penghargaan, piagam, piala dan sejenisnya. Njuk orang gak boleh mengejar medali gitu, Mo? Yo sak karepmu to yo, ngapain saya melarang-larang?

Orang yang menghayati hidup kekal tidak mengejar peninggian manusiawi tadi. Ia fokus pada mendonasikan hidupnya supaya cinta Allah senantiasa menjalar. Salah satu konsekuensinya, bisa jadi ia mendapat medali, penghargaan, dan seterusnya, tetapi, sekali lagi, itu hanyalah konsekuensi hidup kekal, bukan target yang dijejalkan di kepalanya.

Tuhan, semoga kami dapat mencecapi hidup kekal-Mu. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA IV B/2
Minggu Laetare
11 Maret 2018

2Taw 36,14-16.19-23
Ef 2,4-10
Yoh 3,14-21

Posting Tahun 2015: Allah Yang Rentan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s