Terserah Kaulah, Tuhan

Saya tak begitu suka dengan alusi hidup sebagai roda, membuat orang kadang berada di atas, kadang di bawah. Entahlah, mungkin saya punya trauma dengan roda. Tapi alih-alih membahas ketidaksukaan terhadap roda sebagai bingkai melihat kehidupan, lebih baik memberikan solusi toh? Solusinya adalah bingkai ‘naik-turun’ seperti dikisahkan dalam teks bacaan hari ini.

Dibutuhkan motivasi kuat untuk berjalan kaki menanjak puluhan kilometer dari Kapernaum ke Kana dan seorang pegawai istana punya motivasi kuat itu. Ia naik ke Kana untuk meminta Yesus turun ke Kapernaum, demi kesembuhan anaknya. Sungguh mengharukan upaya ayah ini, melakukan apa saja demi kesembuhan anaknya. Berhasilkan ia ‘memaksa’ Yesus turun ke Kapernaum untuk menyembuhkan anaknya? Tidak. Tetapi hancur leburkah hidupnya karena tak berhasil ‘memaksa’ Yesus turun ke Kapernaum? Tidak juga. Pegawai istana itu turun lagi dan didapatinya anaknya sembuh.

Secara fisik, belum tentu turun gunung itu lebih ringan dari naik gunung, tetapi kalau orang hobi naik turun gunung (atau panjat-turun tebing), ia akan tahu bahwa turun gunung tetaplah tidak seberat naik gunung karena ia sudah punya sangu psikologis telah ‘menaklukkan’ gunung, yang tidak lain sebetulnya adalah penaklukan dirinya sendiri.

Dinamika hidup rohani orang beriman bisa dilihat dalam bingkai naik-turun itu. Mau apa lagi, kalau orang mau maju dalam hidup beriman, ia mesti menempuh jalan mendaki yang bisa terasa keras, berat, bikin baper, menuntut disiplin tinggi, kelaparan, pengalaman dipermalukan, dan sebagainya. Jangan kira bahwa orang yang mampu mengampuni setulus-tulusnya itu memang ujug-ujug punya kemampuan itu dari sononya. Ada pengalaman yang menempanya dan pengalaman itu bisa jadi menyakitkan, bikin berat badan turun drastis, bikin dunia gelap, dan sebagainya.

Kepercayaan orang pada Allah yang menyelenggarakan hidup, membuatnya turun gunung dengan hati tenteram, dan didapatinya ada kesembuhan. Tentu saja, ini bingkai naik-turun tadi, tak perlu ditangkap plek persis seperti pegawai istana mendapati anaknya sembuh. Bisa jadi seorang beriman tak mengalami kesembuhan fisik dan kalau dia berontak di situ, itu artinya dia sedang mendaki, dan tadi catatan sudah diberikan, kalau orang mau maju dalam hidup beriman, ia mesti menempuh jalan mendaki yang bisa terasa keras, berat, bikin baper, dan seterusnya (klik link ini kalau mau lihat contoh tetangga yang baper #eh hobi pènèkan).

Pada momen orang menerima kenyataan sakitnya, ia dalam proses menuntaskan penaklukan dirinya dan di ujung jalan itu, ia memperoleh kekuatan. Seperti pegawai istana itu, ia tak memaksa si guru untuk turun bersamanya, tetapi kepercayaannya membuahkan sesuatu. Begitu kiranya kalau orang nothing to lose dalam beriman, imannya jadi tulus dan meskipun ia berupaya sekuat tenaga menghandle hidupnya, ia tetap berprinsip sakkarep-Mu Gusti.

Ya Allah, mohon kekuatan supaya kami mampu berupaya sekuat tenaga seakan-akan semua bergantung pada kehendak-Mu saja. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA IV
12 Maret 2018

Yes 65,17-21
Yoh 4,43-54

Posting Tahun 2017: Mbok Belajar Inklusif Dikit
Posting Tahun 2016: Kafir tapi Mikir

Posting Tahun 2015: Percaya atau Lihat Dulu?

Posting Tahun 2014: Dictum Factum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s