Mbok Belajar Inklusif Dikit

Semakin inklusif sebuah agama, semakin ia menunjukkan validitasnya sebagai jalan menuju Allah. Sekurang-kurangnya ini yang saya peroleh juga dari sejarah Gereja Katolik,  yang dulu sangat kental dengan saling mengafirkan dan mengutuk, lambat laun mulai sadar pentingnya kesatuan seluruh umat manusia.

Tapi, Mo, kalau semua agama inklusif, njuk apa relevansinya perbedaan identitas mereka dong? Kan gak mungkin yang Katolik mesti ikut-ikutan puasa seperti orang Islam atau orang Hindu mesti egaliter seperti orang Kristen dan orang Islam mesti membuat patung seperti patung Buddha? Iya betul, sifat eksklusif itu hanya berlaku untuk hal-hal teknis. Setiap agama perlu belajar supaya tidak menyeret hal teknis itu dalam ranah penilaian prinsip dasariah agama sebagai jalan menuju Allah.

Mangsudnya apa sih, Mo, mbok omong yang simpel-simpel aja! Ya wis, langsung contoh deh. Andaikan orang Islam yang mesjidnya rusak hendak berdoa bersama dan membutuhkan tempat doa bersama dan satu-satunya tempat yang memungkinkan itu adalah gereja yang di dalamnya ada salib, patung Yesus dan kawan-kawan. Andaikan tidak ada tabrakan jadwal sehingga pengurus gereja mengizinkan doa bersama umat Islam itu: apakah salib mesti dibongkar atau ditutupi dengan kain ungu supaya umat Islam tak menyembah berhala?

Persoalan tempat itu sendiri sudah menunjuk pada hal teknis, apalagi patung atau gambar dan sejenisnya. Hati pendoa bukan perkara teknis. Ini adalah relasi pribadi dengan Tuhannya, yang tak ditentukan oleh perkara-perkara teknis tadi. Maka, jika hal teknis ini jadi sumber persoalan (karena yang satu menginginkan salibnya diturunkan, misalnya), itu pertanda bahwa yang teknis itu malah dianggap lebih penting daripada relasi pribadi orang dengan Allah sendiri. Dalam kondisi itu, agama jadi eksklusif dan tak sungguh-sungguh memanifestasikan diri sebagai jalan menuju Allah.

Bacaan hari ini menampilkan sosok kafir sebagai protagonis cerita. Ini adalah kali kedua Yesus berada di Kana. Pada waktu itu pengelompokan manusia didasarkan pada iman kepada Yesus: (1) orang Yahudi yang skeptis terhadap kemesiasannya (bdk. Nikodemus dalam Yoh 3,1-12), (2) orang-orang Samaria, yang dianggap sesat atau bidah, malah menerima kesaksian seorang wanita khususnya mengenai Yesus, padahal mereka belum melihat aneka mukjizat (Yoh 4,1-41), dan (3) orang kafir yang percaya pada kata-kata Yesus bahkan sebelum melihat tanda kehebatannya (Yoh 4,46 to 50).

Jalan kaki sejauh 26 km menanjak tentu bukan perkara kenyamanan dan Yesus menempuh jarak itu untuk kembali ke Kana. Di sana pun, ia punya peluang untuk mengingatkan para muridnya mengenai iman yang tidak dibangun oleh mukjizat, tetapi oleh Sabda Allah sendiri. Ini sangat kontras dengan orang-orang Yahudi yang tak percaya pada kata-kata Yesus, yang maunya lihat hasil langsung seketika on the spot, real time di depan mata, yang mungkin mesti patah tulang, amputasi kaki, opname tiga bulan dulu sebelum tobat! Itu masih mending. Ada juga yang sampai menjelang matinya tak bertobat juga karena kepalanya sudah dipenuhi kebenaran eksklusif miliknya sendiri.

Jalan yang disodorkan Yesus tak pernah eksklusif seperti yang diyakini orang Yahudi saat itu. Keselamatan bersifat inklusif karena begitulah Allah. Semoga setiap agama belajar menerjemahkan kebenaran iman kepada Allah YME sehingga dapat ditangkap oleh semua saja tanpa sekat agama. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA IV
27 Maret 2017

Yes 65,17-21
Yoh 4,43-54

Posting Tahun 2016: Kafir tapi Mikir
Posting Tahun 2015: Percaya atau Lihat Dulu?

Posting Tahun 2014: Dictum Factum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s