Cinta Rentenir

Setiap berangkat atau pulang sekolah, saya melewati warung mebel (bacanya mèbêl) yang berjudul ‘Berdikari’. Maklum, warungnya ini persis di sebelah kompleks sekolah saya di Blok Q, Jakarta (coklat ngaku Betawi). Waktu itu saya tidak tahu bahwa itu adalah akronim dari berdiri di atas kaki sendiri. Ya maklumlah, saya juga tidak pernah berpikir bahwa orang bisa berdiri di atas kaki orang lain kecuali kalau ia memang mau menginjak kaki orang lain itu. Tapi sudahlah jangan diperpanjang persoalannya, kasihan warung mebelnya.

Hari ini saya mau memakai kata berdikari sebagai kata kunci. Menurut pengalaman saya, tak ada upah yang lebih membahagiakan daripada melihat orang yang kita bantu itu menjadi pribadi yang berdikari. Ini saya lihat dari sudut pandang si guru yang berkeliling ke sana kemari menyembuhkan banyak orang, termasuk orang lumpuh, yang tak berpengharapan karena tak ada orang lain yang membantunya selama 38 tahun. Akan tetapi, sebetulnya tak kelihatan bahwa Yesus menyembuhkan orang itu ya. Dia cuma meminta orang itu bangun, mengangkat tilamnya dan berjalan.

Blaik, orang itu benar-benar bangun dan berjalan, persis seperti yang ditunjukkan oleh si guru itu. Jangan-jangan, sebetulnya selama 38 tahun itu tak ada orang yang membuatnya berdikari dan orang ini tak sungguh-sungguh lumpuh. Orang lebih suka tergantung daripada berdikari. Lebih jahatnya lagi, ada juga orang yang membantu supaya orang yang dibantunya itu semakin bergantung padanya. Pagar makan tanaman, cinta rentenir. Si guru bukan rentenir, tetapi mungkin orang lumpuh ini lebih suka rentenir yang dinanti-nantikannya selama 38 tahun.

Setelah orang itu berjalan dan ketahuan pemuka agama, ia dipersalahkan karena melanggar hukum Sabat, tetapi ia mempersalahkan guru yang memintanya bangun dan berjalan. Oalah, ternyata belum berdikari sungguhan dan karenanya ia ditegur oleh guru itu. Berdikari sungguhan mestinya muncul dari kedalaman, bukan dari ‘keluaran’ atau penampakan.

Kata seseorang sebelum mati sebagai martir, pada kaki Allah kita temukan setiap kebenaran yang hilang, semua yang dulu jatuh dalam gelap jadi terang, badai jadi tenang, yang semula terlihat seperti bernilai (meskipun sebenarnya tak bernilai) muncul dalam wujud sejatinya dan kita dibangunkan pada keindahan hidup yang bersahaja, tulus, murni, yang tak terbuat dari penampakan saja, tetapi dari hal substansial, yang terbuka kepada liyan dalam tegangan kuat sedemikian supaya kemanusiaan jadi satu. Paham oraSon? Aku ya ora, mungkin mesti jadi martir dulu baru paham ya.

Tuhan, semoga kami tidak jatuh dalam dekapan cinta rentenir. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA IV
13 Maret 2018

Yeh 47,1-9.12
Yoh 5,1-16

Posting Tahun 2017: Bangun Brow!
Posting Tahun 2016: Penggemar Harapan Palsu

Posting Tahun 2015: Mau Lu Apa?

Posting Tahun 2014: Will Thou be Made Whole?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s