Cara Hidup Sukses

Diskusi di kelas mengingatkan saya pada fenomena karoshi di Jepang (itu loh kematian karena kerja keterlaluan, sayang tak saya temukan video yang pernah saya lihat; orang bisa tahu-tahu tidur di sembarang tempat saking lelah dan ngantuknya), tetapi juga beberapa belas tahun lalu para senior saya di Macau sudah menyinggung mentalitas kerja di Asia. Jangan khawatir, tidak menyinggung Anda, tetapi menyinggung kami yang studi teologi. Istilahnya sederhana: teologi kerbau. Ini untuk menyindir kerja keras yang tak sebanding dengan hasilnya. Imajinya ialah kerbau yang membajak sawah, tenaganya besar tapi ya pelaaaaaaannnnn…. Bisa dimaklumi sih, ngotot belajar dan bekerja, ujung-ujungnya cuma mak klênyit (janjane saya gak tau apa ada kata klenyit). 

Semoga karoshi tak merebak ke negeri tercinta, juga meskipun dalam teks bacaan hari ini diindikasikan kerja tiada henti, tanpa kenal Hari Sabat. Ini pasti bukan kerja cari nafkah, melainkan kerja penyebaran Warta Gembira. Kerja cari nafkah mesti ditata supaya tidak membuat orang terbunuh karena pekerjaannya. Terbunuh juga tak perlu dimengerti dalam konteks kematian biologis, tetapi lebih-lebih kematian sebagai pribadi manusia.

Bayangkanlah negara tetangga yang harus membuat rekayasa sosial supaya warganya bisa tersenyum, bisa tertawa, punya waktu luang, punya kehidupan sosial di luar medsos. Mêsakké toh untuk tertawa saja mesti dipaksa? Tetapi ini nyata dan serius. Kalau kegembiraan orang tak lagi spontan, Warta Gembira apa yang mau dia tularkan? Negara tetangga ini bukan negara miskin, dan wilayahnya juga tertata sangat baik seperti dirintis oleh penjajahnya dulu, orang-orangnya super, berkaliber internasional; pajak tinggi tak masalah, mereka bisa membayarnya. Katanya orang-orang ini punya motto 5C’s: carrier, cars, credit card, condominium, country club. Itulah parameter kesuksesan yang dipakai.

Untuk kerja dengan tolok ukur kesuksesan 5C’s tadi, bisa jadi orang tak kenal Sabat. Bisa dibayangkan dong, sudah secara spiritual tak kenal Sabat, secara material tak kenal Sabat. Dyaaaaar kowe. Orang tak beristirahat baik fisik maupun mentalnya.

Padahal, andai saja orang kenal Sabat untuk kerja fisiknya, ia malah bisa fokus pada kerja spiritual pada hari Sabat itu, yang hasilnya malah bisa memperkokoh mentalitas kerja fisiknya. Lha emangnya kerja spiritual itu kayak apa, Rom?
Macam-macam: meditasi-yoga kek, sembahyang berjamaah nek, kontemplasi cinta Tuhan di tempat rekreasi kak, atau baca buku atau blog Versodio nak #halaaaaaah, atau praktik karitatif-amal yak. Pokoknya, ini adalah momen untuk mengasah kepekaan kepada roh: dimensi afektif hidup orang yang memampukannya hidup sebagai pribadi manusia di hadapan Allah dan sesamanya.

Di situlah terletak cara hidup sukses sebenarnya: orang mempunyai hidup dalam dirinya sendiri, autentik, terima Sabat fisik, lupakan Sabat untuk mewartakan kebaikan Allah, tidak jadi korban akreditasi lembaga yang cuma bisa mengukur dengan 5C’s tadi.
Lha piye to Rom, cara hidup kok berupa pedoman, gak konkret! Yang bertanggung jawab untuk konkretisasi bagi Anda ya diri Anda sendiri dongMosok saya? Kalau yang bikin konkret cara hidup sukses itu saya, yang sukses saya dong

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan supaya warta gembira-Mu semakin nyata bagi sebanyak mungkin makhluk-Mu. Amin.


HARI RABU PRAPASKA IV
14 Maret 2018

Yes 49,8-15
Yoh 5,17-30

Posting Tahun 2017: Cinta Ah-Nies
Posting Tahun 2016: Mari Menggambar Allah 
Posting Tahun 2015: No God without Love

Posting Tahun 2014: Stay Focused

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s