Mari Menggambar Allah

Beberapa berita kekejian ibu terhadap bayi kandungnya membuyarkan asumsi Kitab Suci ini: Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Jawaban yang diharapkan dari pertanyaan retorik itu ialah negatif. Gak ada perempuan yang melupakan bayinya. Itu gak mungkin. Seorang ibu mestilah sayang pada anak kandungnya, takkan pernah ia melupakan anaknya. Pada kenyataannya, asumsi itu tak berlaku lagi: mungkin saja perempuan membuang bayinya, mungkin saja seorang ibu melupakan anak kandungnya, mungkin saja wanita lari dari tanggung jawabnya terhadap anak. Naluri alamiah itu ternyata bisa luput dari apa yang semestinya terjadi. “Hukum alamiah” itu bisa dikalahkan oleh conditionings yang berasal dari rekayasa manusia sendiri: bisa jadi karena ia tergila-gila oleh online-games (pernah muncul berita di Korea seorang anak mati kelaparan karena ayah ibunya terobsesi permainan merawat anak dan malah anak kandung mereka telantar), tekanan keras faktor ekonomi, harga diri, dan sebagainya.

Akan tetapi, kalaupun asumsi itu hancur, Allah memberi janji yang tak palsu: sekalipun seorang perempuan bisa saja melupakan anak kandungnya, Allah takkan melupakan umat-Nya. Janji itu terpenuhi dalam sosok pribadi Yesus yang berani ambil risiko nyawanya sendiri. Teks Injil hari ini memberi pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum Sabat yang dikisahkan kemarin. Gampang saja, dulu orang menulis kitab untuk menjelaskan terjadinya semesta, asal-usul hidup manusia, awal mula rantai kekerasan, dan sebagainya. Itu dibuat tentu dengan kaidah hermeneutika juga. Mereka tulis Allah beristirahat untuk mencipta, dan yang sebenarnya terjadi adalah manusia sendiri yang butuh nyepi, butuh istirahat untuk mawas diri, sadar diri di hadapan Pencipta.

Maka dari itu, termasuk hukum Sabat, tentulah tidak berlaku bagi Allah. Allah tak mungkin berhenti bekerja pada setiap week end. Manusialah yang mesti berhenti menyibukkan diri dengan urusan tetek bengek yang memblokadenya untuk kontak dengan dirinya sendiri, kontak dengan Allah, kontak dengan realitas yang sesungguhnya. Jadi, tak mungkin kebaikan Allah malah dihentikan oleh hukum Sabat. Yesus secara sadar melakukan penyembuhan, bukan soal sengaja melanggar hukumnya, melainkan soal memberi gambaran bahwa kemurahan hati Allah tak boleh dihentikan oleh rekayasa manusia sendiri, bahkan jika rekayasa itu dijuluki hukum suci, hukum ilahi, hukum liturgi, apalagi hukum mati.

Tuhan, semoga tutur kata, tindak tanduk, dan hidupku dapat jadi gambaran kemurahan hati-Mu bagi sesama. Amin.


HARI RABU PRAPASKA IV
Hari Raya Nyepi – Gerhana Matahari
9 Maret 2016

Yes 49,8-15
Yoh 5,17-30

Posting Tahun 2015: No God without Love
Posting Tahun 2014: Stay Focused

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s