Dewan Cari Hormat

Apa ada kebenaran yang enak ya? Apakah yang namanya kebenaran itu justru mesti tidak membuat nyaman? Kalau memang gitungapain orang kudu mencari kebenaran? Cari penyakit?

Dalam teks bacaan hari ini sang guru mengafirmasi kebenaran yang tak bikin nyaman. Pertama, dia mengasumsikan bahwa pengalaman bangsa Israel dalam sejarah itu mengantarkan mereka pada sosok pribadinya sebagai Mesias. Orang Kristen diundang untuk melihat sejarah Israel (bukan Israel yang sekarang ini tentu saja) sebagai masa persiapan kedatangan sang guru itu, tetapi celakanya, seperti sudah saya singgung dalam posting Wis Kewowogen, jauh lebih banyak orang Kristen tak mengenal sejarah Israel seperti tersirat dalam Kitab mereka. [Boro-boro kenal Kitab Suci Yahudi, baca Kitab Suci sendiri aja jarang!] Lebih payah lagi, orang-orang Kristen (termasuk saya, eaaaaa) tak juga mengerti apa yang diimani orang-orang Yahudi itu.

Kedua, lebih gak nyaman lagi, sang guru itu mengafirmasi juga bahwa ia tak butuh hormat dari manusia! Padahal, namanya manusia itu ya punya tendensi ingin dihormati dong. Ya sebetulnya gak masalah sih tendensi itu sejauh dibarengi dengan tendensi untuk menghormati orang lain. Artinya, apa jeleknya saling menghormati? Tetapi sang guru itu dengan tegas sekali mengatakan bahwa ia tak butuh hormat dari manusia! Seperti arogan-arogan gimana gitu….

Meskipun demikian, kerap terjadi orang memberi kesan atau menilai dengan wawasan minim sehingga cenderung negatif. Kata hormat sebagai terjemahan δόξαν memang tak langsung menunjukkan nuansa penghormatannya. Dalam bahasa Inggris disebutkan kata glory, tetapi dalam bahasa Yunaninya itu mesti terkait dengan ‘doxa’, pengetahuan, pendapat manusiawi. Jadi, kata hormat di situ mestinya terhubung dengan pujian, penghormatan, pemuliaan, yang asalnya dari opini orang. Sang guru menegaskan hormat macam begini tak diperlukannya.

Pada kenyataannya, justru banyak orang mengejar hormat macam begini sehingga pernyataan ‘tak butuh hormat dari manusia’ itu bikin gak nyaman juga. Sebetulnya gak gitu juga sih, apalagi bagi kumpulan orang yang memang sudah memagari dirinya dengan aneka ayat supaya hormat itu otomatis melekat pada kumpulan itu, supaya tak ada orang yang merendahkan atau mengkritiknya. Untuk orang-orang seperti itu ya sudahlah; mereka juga tak akan membaca tulisan seperti ini. Pokoknya, pembaca diharapkan mawas diri soal jenis hormat yang dicarinya dan apakah kata-kata si guru ‘tak butuh hormat dari manusia’ itu bikin nyaman atau tidak, dan kalau tidak nyaman, dari mana datang rasa tidak nyaman itu, lalu simpulkan saja sendiri apakah yang dicari itu membawa hidup membahagiakan atau, seperti kemarin dibahas dalam Cara Hidup Sukses, membawa hidup mekanis yang bergelimangan sukses tetapi membunuh kemanusiaan.

Ya Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami lebih melihat kemuliaan-Mu daripada keinginan untuk dihormati. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA IV
15 Maret 2018

Kel 32,7-14
Yoh 5,31-47

Posting Tahun 2017: Learning from Others
Posting Tahun 2016: White Lie

Posting Tahun 2014: Mana Berhalamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s