Jangan Sia-siakan Cinta

Keterlaluanlah pembaca blog ini yang sampai hari ini tak pernah mendengar atau membaca nama Stephen Hawking. Saya pun tak kenal, bahkan pemikirannya tak saya ketahui, tetapi kalau Anda tak pernah dengar atau baca nama Stephen Hawking, Anda sungguh terlalu, tak menghargai apa yang sudah saya ketik pada kalimat pertama [meskipun saya gak minta dihargai juga sih, saya kan cuma bilang Anda sungguh terlalu].

Orang ini mendeklarasikan dirinya sebagai seorang ateis dan saya secara pribadi menghargai deklarasinya meskipun sebetulnya saya juga gak ngerti-ngerti amat apa yang dideklarasikannya itu. Bukan apa-apa, sering saya jumpai argumen orang-orang ateis itu sebetulnya juga argumen saya untuk mengkritisi paham-paham Allah yang nonsense. Bisa jadi Tuhan yang tidak dipercayai Stephen Hawking ini juga adalah Tuhan yang tak saya percayai. Bedanya cuma dia mendeklarasi diri sebagai ateis, sedangkan saya tidak. Beda sudut pandang aja sih Bro’, mosok gak boleh?

Yang bikin runyam bukan beda sudut pandangnya, melainkan sikap orang yang memaksa orang lainnya untuk mengambil sudut pandang yang dimilikinya sendiri. Tak mengherankan bahwa pimpinan Gereja Katolik baik-baik saja bahwa Stephen Hawking menjadi anggota akademi kepausan untuk pengembangan sains, yang dipilih bukan atas dasar keyakinan religius, melainkan kompetensi saintifiknya. Menariknya, ada teman Paus Fransiskus yang justru mengapresiasi sepak terjang Stephen Hawking sebagai manifestasi kreativitas Allah dalam proses penciptaan-Nya dari waktu ke waktu. Lha piye jal, akhirnya ini soal cara pandang tertentu yang kalau di situ termuat keyakinan kepada Allah, malah tak ada lagi tempat bagi ateisme, tak ada lagi kafir-kafiran karena siapa saja dipanggil Allah, entah orang itu mau menerima atau menolaknya.

Teks bacaan hari ini menunjukkan kelompok orang yang ribut mengenai atribut sang guru, tanpa sungguh mengenal Pribadi yang mengutusnya. Itulah susahnya dengan keyakinan. Ada sebagian orang yang membangun keyakinannya dengan begitu banyak asumsi, aksioma, kaidah, dan sebagainya sedemikian rupa sehingga apa saja jadi objek pikirannya, bukan ajang manifestasi Cinta.

Menariknya, Stephen Hawking, menurut tulisan ini, berpesan begini: Satu, ingat untuk selalu melihat bintang dan tidak ke kakimu. Dua, jangan menyerah dalam bekerja. Pekerjaan memberimu arti dan tujuan, hidup tak akan berarti tanpanya. Tiga, jika kamu beruntung menemukan cinta, ingat, cinta ada di sana dan jangan sia-siakan.

Sang Cinta ada di sana, tetapi mungkin tak sedikit orang menyia-nyiakan-Nya. Semoga semakin banyak orang yang mengenal-Nya dan tak menyia-nyiakan-Nya. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA IV
16 Maret 2018

Keb 2,1a.12-22
Yoh 7,1-2.10.25-30

Posting Tahun 2017: 313: Untung Buntung
Posting Tahun 2016: Gajahlah Kebersihan

Posting Tahun 2015: Yakin Percaya Tuhan?

Posting Tahun 2014: Dekat di Mata, Jauh di Hati

2 replies

  1. Jika orang percaya bahwa ada awal mula semesta, apa yang Tuhan lakukan sebelum tercipta alam semesta? Apakah mempersiapkan neraka bagi mereka yang melontarkan pertanyaan seperti itu?” (stephen hawking),, sebatas menyimak tidak lebih …berkah dalem.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s