313: Untung Buntung

Saya menarik dukungan terhadap Ahok [hadeuh, emang lu sapa?] dan memberikannya kepada orang lain. Pendekar Tiga Satu Tiga? Paslon nomor tiga? Never! Ganz und gar nicht! Mai! Mbok dibayar 62 milyar bae aku ora sudi! Hahaha…. emang sape nyang mau bayar elu?

Bacaan-bacaan hari ini menghadirkan aura panas menegangkan dalam kontemplasi saya. Ini bukan aura demo gak mutu, melainkan aura permusuhan yang dihembuskan oleh orang-orang yang sirik terhadap paslon dua #eh… Maaf, bacaan pertama itu bunyinya antara lain begini: Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita! Lanjutannya memang kemudian mengerucut pada pribadi Yesus, tetapi yang utama ialah justru kalimat awal itu. Sudah pernah saya ingatkan, kalau orang baik membawa payung, saat hujan justru orang jahatlah yang tidak kehujanan: karena yang jahat itu merampas payung orang baik.

Lha ini Kitab Suci kok malah menyodorkan aura permusuhan itu gimana sih? Ya tentu saja untuk memaparkan misteri kehidupan yang kerap kali justru mendera orang baik; bukan karena ia jadi jahat, melainkan karena kebaikannya menjadi skandal bagi orang-orang jahat dan orang-orang jahat berusaha dengan segala daya upaya, termasuk dengan demo gak mutu, untuk menjegal orang baik.
Loh, dah tau gitu kok malah Romo menarik dukungan untuk Ahok sih? Bukankah dia orang baik? Bukankah kita mestinya mendukung orang baik? Apakah Romo lupa quote of the day tiga tahun yang lalu “Orang-orang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena banyaknya orang-orang baik yang diam dan mendiamkan”? Itu kata-kata bijak loh!
Iya betul dan kamu tahu bahwa orang pekok bego’ sontoloyo pun mulutnya bisa menuturkan kata-kata bijak, bukan? Kata-kata itu bisa diucapkan misalnya oleh timses presiden, mantan menteri, atau calon gubernur [ketiganya satu orang, hahaha].

Saya tarik dukungan untuk Ahok karena suara saya tak berarti untuknya, wong KTP sudah saya cabut, tetapi lebih daripada itu, karena rasa saya dukungan terhadapnya sudah cukuplah jumlahnya. Saya lebih tertarik untuk angkat topi terhadap orang-orang baik lainnya yang, meskipun tak tampak menonjol di permukaan karena bukan protagonis pilkada, mengambil risiko tanpa jaminan apapun dari pilkada dengan mencuatkan kebenaran. Taruhlah misalnya anggota majelis agama yang, tanpa dibutakan oleh aneka kepentingan politis, membeberkan tafsir Kitab Suci yang menyejukkan common sense dan menguak kebenaran, dengan risiko ditendang dari majelis agama. Menurut pendapatan saya, ini semulia pilihan orang-orang lain yang mengedepankan Kebenaran Ilahi dengan risiko harga diri anjlok di mata orang-orang kalap.

Bacaan kedua merepresentasikan jiwa besar orang benar seperti itu bahkan juga untuk masuk ke tengah-tengah orang kalap. Hidup mati orang ada di tangan-Nya, dan orang benar tak peduli soal waktu kematiannya. Baginya hidup bahagia adalah penguakan Kebenaran dalam kemanusiaan yang bermartabat luhur dan mati karenanya adalah keuntungan. Oleh orang-orang kalap kebijaksanaan ini dibalik: hidup bahagia adalah cari untung dan karenanya masalah yang menyebabkan kekalahan, apalagi kematian karenanya adalah kerugian.

Ya Tuhan, mohon rahmat kekuatan-Mu supaya kami tetap setia membela kemanusiaan yang adil dan beradab. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA IV
31 Maret 2017

Keb 2,1a.12-22
Yoh 7,1-2.10.25-30

Posting Tahun 2016: Gajahlah Kebersihan
Posting Tahun 2015: Yakin Percaya Tuhan?

Posting Tahun 2014: Dekat di Mata, Jauh di Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s