Biar Tuhan Membalasnya

Apa yang ada dalam benak orang ketika ia mengatakan “Semoga Tuhan membalas perbuatan mereka”? Ya gak tau, bergantung si penuturnya dengan konteks atau kasusnya. Kalau penuturnya orang baik sih biasanya harapan akan pembalasan itu berupa harapan akan taufik dan hidayah bagi orang lain. Kalau orang jahat, atau orang baik yang sedang dikuasai roh jahat, ya harapan akan pembalasan itu jadi harapan akan hukuman bagi orang lain. Dengan kata lain, untaian ‘doa’ tadi sebetulnya cuma proyeksi keinginan orang terhadap pihak yang dinilainya baik atau buruk. Pada saat jengkel, orang bisa menyerapah orang lain dan membawa-bawa nama Tuhan. Sebaliknya, pada saat gembira atau diuntungkan, orang bisa membawa nama Tuhan untuk memuji orang yang menguntungkannya. Prinsipnya gak beda jauh dari para pendemo yang membawa-bawa nama Tuhan.

Apakah Tuhan membalas sesuai dengan proyeksi keinginan orang itu? Gak ada rumusnya, bergantung hidayah Allah saja. Maksudnya, kalau orang memang sungguh mau membawa-bawa nama Tuhan untuk membalas tindakan orang lain, ya serahkan saja perkaranya kepada Tuhan karena Dialah yang, menurut bacaan pertama, menghakimi dengan adil, menguji batin dan hati. Soal klop dengan keinginan yang diproyeksikan dari rasa perasaan orang, lihat saja nanti hasil akhirnya gimana. Gampang, bukan?

Tetapi itulah manusia yang penuh ironi: maunya gampang tapi cari jalan yang susah dan berbelit-belit dengan aneka pembelaan diri demi mengejar ambisi pribadi berbalut ideologi penuh fantasi. Janjane gampang toh jadi pemimpin kalau memang sudah punya modal karakter sebagai pemimpin? Tinggal tampilkan diri saja dan biarkan rakyat menilai daripada susah payah memoles citra kepribadian sedemikian rupa malah akhirnya di sana-sini ketahuan bolongnya: jebulnya orientasi dasarnya itu penguasa, bukan pemimpin.

Kalau kemarin saya tarik dukungan dari Ahok, hari ini saya tarik dukungan dari Yesus [lha emangnya dia butuh dukungan po?]. Dia mah nothing to lose: mati aja kagak masalah, apalagi cuma gagal jadi gubernur #eh… iki ngomongke sopo to? Saya angkat topi pada Nikodemus yang di tengah-tengah konflik penafsiran atas al-[#hayo nekad!] kitab berani menyampaikan catatan kritis: apa memang Hukum Taurat itu menghukum orang sebelum yang bersangkutan bersuara atau sebelum orang tahu betul apa yang dibuatnya? Atau Taurat bisa sewenang-wenang menghukum orang menurut apa kata orang lain? Catatan kritis ini memang tidak diterima oleh mereka yang gelap mata, tetapi sekurang-kurangnya Nikodemus menunjukkan kebenaran dasar hukum Taurat.

Dalam masa seperti ini, pertobatan orang paling kentara dari gregetnya untuk memperjuangkan kebenaran tujuan dan sarananya. Kerap kali terjadi orang begitu antusias membela agama, tapi sarananya malah mencoreng agama. Bisa terjadi orang begitu menggebu-gebu membela Allah, tapi sarananya malah menunjukkan kelekatannya terhadap bisnis, kuasa, mungkin juga wanita (#eaaa ada yang menjustifikasi poligami dan jiwa predatornya dengan rasionalisasi demi mendidik perempuan fokus pada Allah…. lha njuk kamu fokus ke perempuan atau itunya ya).

Ya Allah, mohon kejernihan budi dan keteguhan hati untuk menghidupi kebenaran-Mu. Amin.


SABTU PRAPASKA IV A/1
1 April 2017

Yer 11,18-20
Yoh 7,40-53

Posting Tahun 2016: Kamu Teman Siapa?
Posting Tahun 2015: Dilahirin Lagi?

Posting Tahun 2014: Conspiracy against “J”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s