Kamu Teman Siapa?

Orang independen itu memang kerap jadi ancaman bagi status quo. Kehadirannya bisa ditangkap macam-macam seturut kepentingan orang yang menafsirkannya. Calon gubernur independen, misalnya. Ia bisa diserang dari segala penjuru dan masing-masing pengusung kepentingan bisa membuat alasan palsu alias munafik. Salah satu lontaran yang kemarin tercatat di benak saya ialah,”Kalau orang independen ini ternyata ngawur, siapa yang mau tanggung jawab?” Tak perlulah lontaran itu diulas di sini. Cukup dipakai sebagai contoh bagaimana jalur independen mengundang beragam reaksi kelompok yang bernaung di bawah lindungan partai.

Yesus dalam waktu relatif singkat menjadi pergunjingan orang bukan karena dia masuk dalam kelompok terhormat, melainkan karena wacana yang disodorkannya senantiasa menyentuh kerinduan batin orang dari aneka kalangan. Tanggapan terhadap kerinduan batin itulah yang justru menimbulkan pergumulan orang. Dalam hal ini saya teringat pada kata-kata Paulus: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Rm 7,15 ITB). Setiap orang senantiasa bergumul dengan kebenaran dan pada titik kenyamanannya dalam status quo, orang akan menentang suara kebenaran seperti disodorkan Yesus.

Menarik bahwa Nikodemus, yang adalah anggota kelompok orang Farisi, turut dikutuk oleh kaumnya sendiri. Tampaknya ia percaya bahwa Yesus ini utusan Allah tetapi yang dipertanyakannya bukan pokok materialnya. Ia mempertanyakan metode seturut yang tertera dalam hukum Taurat yang mereka junjung: apakah fair bahwa kita menghukum orang sebelum kita mendengarkannya dan melihat dengan jujur apa  yang dibuatnya?
Lha, itu baru pertanyaan metodologis, tetapi sudah ditanggapi keras oleh kaum Farisi: pokoknya Kitab Suci sudah menyatakan bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea, titik! Auwwww….

Kitab Suci doang gak cukup jadi penentu benar salahnya seseorang. Gile aje, Kitab Suci dibuat kapan, manusia hidupnya zaman kapan. Kitab Suci juga mengandaikan pengetahuan orang mengalami perkembangan, perluasan, dan kedalaman. Orang perlu mengerti bahkan sejarah Kitab Suci itu sendiri, sejarah orang-orang yang hidup darinya, sejarah orang-orang yang hendak ‘dihakimi’ dengan Kitab Suci itu. Tanpa pengetahuan historis itu, Kitab Suci cuma jadi buku bersegel yang tak pernah aplikatif, gak sambung dengan pribadi-pribadi konkret yang hidup sekarang ini dan di sini. Bahasanya bagus tetapi dayanya aus.

Salah satu kefatalan kaum Farisi ialah bahwa mereka menentang pertanyaan kritis Nikodemus dengan asumsi, bukan dengan daya nalar, bukan dengan temuan fakta. Jika teks Kitab Suci hanya didekati dengan asumsi, ia tidak mengarahkan orang untuk beriman, tetapi untuk jadi fundamentalis, fanatik, radikalis, dan persis dengan cara itulah orang membangun berhalanya. Orang independen itu merdeka dan merdeka tidak sama dengan anarkis ataupun tak berkomitmen. Berteman dengan orang independen biasanya justru membebaskan, tanpa pamrih tersembunyi.

Ya Tuhan, semoga kami dapat menjadi orang-orang independen yang mendengar suara-Mu dalam kerinduan masyarakat akan keadilan dan kesejahteraan bersama. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA IV
12 Maret 2016

Yer 11,18-20
Yoh 7,40-53

Posting Tahun 2015: Dilahirin Lagi?
Posting Tahun 2014: Conspiracy against “J”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s