Isih Kepenak Jambanku, Toh?

Orang munafik pasti berbuat baik dan orang jahat berhati busuk. Baiknya orang jahat ialah bahwa ia tidak munafik. Biasanya njuk orang yang kurang genep bertanya: brarti orang baik itu munafik ya? Atau, orang yang merasa diri ‘bersih’ (alias kurang genep) akan tersinggung dengan ungkapan “Orang jahat itu sekurang-kurangnya tidak munafik” [karena berkesimpulan bahwa orang baik itu munafik].

Teks hari ini mengundang orang untuk beranjak dari kebusukan hati. Perempuan yang berzinah itu, entah busuk hati karena tekanan ekonomi atau defisit afektif atau profesi, di hadapan Yesus mendapat tempat sejajar dengan orang-orang yang menggelandangnya. Orang Farisi dan ahli Taurat memperalat tragedi perempuan itu semata untuk menjatuhkan Yesus. Dengan kata lain, hati mereka pun busuk. Kebusukan hati, tak bertahan di hadapan ketulusan hati. 

Yesus sebetulnya terbuka pada kebijakan para ahli Taurat dan orang Farisi sebagai pedoman orang untuk bertindak seturut hukum Allah. Maka ia membungkuk dan menulis di tanah. Mungkin ia akan mencatat kebijaksanaan dari mulut pemimpin agama itu. Akan tetapi, ternyata malah mereka resek dengan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus. Akhirnya Yesus berdiri dan membuat pernyataan yang menantang semua saja untuk berpikir: siapa yang hatinya gak busuk, silakan duluan melempari perempuan ini dengan batu.

Kepentingan Yesus tidak terletak pada concern untuk membela pendosa! Monggo hukum itu pendosa! Akan tetapi, tolok ukurnya bukan pikiran keadilan manusiawi belaka (yang legalistik, fundamentalis, radikalis). Tolok ukurnya ada pada kemurahhatian Allah sendiri. Siapa yang bisa mengklaim diri atau mengklaim pikirannya paling sempurna di hadapan Allah? Ternyata oh ternyata, satu per satu orang pergi, tak ada yang menghukum perempuan yang berzinah itu!

Yesus pun tak menghukum perempuan itu karena ia memang membawakan gambaran Allah yang murah hati. Apakah murah hati itu berarti tidak menghukum dan membiarkan si perempuan mengulangi lagi perbuatannya? Jelas tidak! Mulai sekarang, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi! Apakah perempuan itu tak berdosa lagi? God knows, tetapi poinnya bukan kerapuhan perempuan itu. Poinnya ialah bahwa sekarang ini, orang mengarahkan tatapannya ke masa depan, bukan pada kerapuhan dan kedosaan masa lalu.

Poin ini ditegaskan dalam bacaan pertama dan kedua: jangan ingat-ingatlah zaman jebot, arahkan diri pada apa yang ada di hadapanmu untuk membangun sesuatu yang baru. Apa itu yang baru? Gak tau, bergantung pada apa yang kamu mau buat.
Apakah ini mudah? Beriman itu mana ada yang gampang!? Di hadapan pasangan yang abai terhadap komitmen, di hadapan sosok orang yang melecehkan diriku, di hadapan orang yang melukaiku, maukah aku bermurah hati?

Di pintu WC rumah saya dulu terpasang daftar ultah anggota komunitas (30-an orang) sehingga setiap kali duduk atau jongkok di jamban, saya menatap daftar ultah dan terpikirlah pribadi-pribadi yang tertera dalam daftar, dan sesekali action plan untuk pesta ultah. So, alih-alih mengingat-ingat kebusukan yang masuk ke jamban, lebih baik menatap ke depan. Itulah manusia; sebetulnya gak suka yang busuk, tapi malah memeliharanya sedemikian rupa sampai tatapan ke depannya blawur.

Ya Allah, bantulah aku menatap dunia yang perlu kubangun bersama sesama. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA V C/2
13 Maret 2016

Yes 43,16-21
Flp 3,8-14
Yoh 8,1-11

Posting Minggu Prapaska V B/1 2015: Sepi dalam Ramai
Posting Minggu Prapaska V A/2 2014: Beriman atau Berjudi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s