Gajahlah Kebersihan

Kemarin sudah disinggung soal white lie, yang sebetulnya juga merupakan topeng kemunafikan: orang tak mau masuk pada kedalaman relasi yang tulus, pada konflik yang diperlukan justru untuk berkembang dalam kebenaran. White lie justru bisa jadi momok bagi agama (baca: orang beragama), apalagi kalau disertai kepicikan pengetahuan.

Kemarin muncul reportase majalah America yang memuat gagasan Uskup San Diego, Robert W. McElroy: Gereja Katolik itu seperti anjing yang tak menggonggong. Pausnya sudah menegaskan untuk menentang perang, tetapi pada kenyataannya Gereja Katolik (di Amerika) bungkam untuk menyuarakan sesuatu berkenaan dengan keterlibatan Amerika di Timur Tengah. Uskup ini tampaknya melihat gerakan Islam garis keras justru sebagai tanda bahwa ada bentuk otoritarianisme (Amerika?) yang perlu dikoreksi. Tanpa analisis yang njelimet, dari film London Has Fallen bisa dimengerti suatu kemungkinan bahwa negara ambil bagian dalam pelanggengan perang dan kekerasan.

Jika agama bungkam terhadap persoalan ini, memang betul: ia bak anjing penjaga yang tak lagi menggonggong. Ini benar-benar jadi momok: pengetahuan yang mampet, tidak operasional, dan agama cuma jadi sistem berpikir, tanpa kerohanian sedikit pun! Agama yang berhenti mencari kebenaran adalah agama yang sedang bunuh diri, seperti rumah yang dibangun di atas pasir.

Dalam teks hari ini dikatakan bahwa Yesus tak mau tetap tinggal di Yudea karena orang-orang Yahudi hendak berusaha membunuhnya. Ia menghindari konflik? Jelas tidak. Wong malah kemudian ia pergi ke Yerusalem (meskipun diam-diam sih): ia berbicara di depan orang banyak dan orang banyak pun bertanya-tanya kok bisa-bisanya Yesus ini bicara di depan publik padahal rumornya dia akan dibunuh. Sori, Mas. Ia pegang kendali atas apa yang hendak diwartakannya. Ia tidak membiarkan orang-orang Yahudi yang hendak membunuhnya itu mematikan nyala apinya (ciyeh… nyala api) untuk menyuarakan warta kebenaran.

Orang jahat, menurut Kitab Kebijaksanaan, akan menguji orang benar juga dengan aneka kekerasan. Agama yang memproteksi diri dengan kekerasan, dengan demikian, malah bisa cenderung ofensif, bukan lagi defensif; dan jika agama menjadi ofensif dengan kekerasan (apapun manifestasinya), ia kehilangan rohnya, ia kehilangan nyala apinya. Ia tak perlu ofensif untuk mengutarakan kebenaran yang datang dari hati Allah, tetapi juga tak perlu defensif hanya dengan menggiatkan ritualnya, kecuali ritual itu diisi dengan muatan yang kritis terhadap aneka kekacauan hidup manusia ini. Kalau tidak, agama malah membuang yang hakiki dan memelihara sampah.

Ya Tuhan, mohon kekuatan untuk senantiasa menyeruakkan kebenaran yang datang dari hati-Mu, bukan dari ideologi kami semata. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA IV
11 Maret 2016

Keb 2,1a.12-22
Yoh 7,1-2.10.25-30

Posting Tahun 2015: Yakin Percaya Tuhan?
Posting Tahun 2014: Dekat di Mata, Jauh di Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s