Sepi Sunyi Sendiri

Bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, hari silentium (baca: silensium, berarti diam, tenang, sunyi, hening) umat Hindu Bali, teks bacaan hari ini menyiratkan nuansa bagaimana para pemimpin agama Yahudi hendak membungkam si guru yang mulai populer sebagai nabi. Tak hanya membungkam suaranya, tetapi juga orangnya, biar mati sekalian dikubur di tempat sepi dan dia tak berkoar-koar lagi mengenai kebenaran.

Akan tetapi, mana ada sih kebenaran dibungkam? Mulut orang bisa dibungkam atau disumpal, kaki-tangannya bisa diikat, nyawanya bisa dihabisi, tetapi kebenaran takkan mati. Bahkan, lewat kesaksian sang guru ini ditegaskan bahwa ada kebenaran yang justru ternyatakan melalui kematian (benih yang tak mati takkan berbuah), dan kebenaran melampaui kematian, alias kebenaran takkan mati.

Konon begini kata tetangga saya yang suka berpuisi:
Suaraku tak bisa berhenti bergema.
Di semesta raya suaraku membara.
Walau kau terus saja coba membungkamnya.
Namun suaraku tak pernah bisa kau redam.
Karena kebenaran akan terus hidup.
Sekalipun kau lenyapkan kebenaran takkan mati.
Aku akan tetap ada dan berlipat ganda.
Siapkan barisan dan siap untuk melawan.
Akan terus memburumu seperti kutukan.
Aku bukan artis pembuat berita.
Tapi, aku memang selalu kabar buruk buat penguasa.
Puisiku bukan puisi.
Tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakkan mencari jalan.
Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti.
Ia tak mati-mati meski bercerai.
Dengan rumah dan ditusuk-tusuk sepi.
Ia tak mati-mati telah kubayar yang dia minta.
Umur, Tenaga, Luka.
Kata-kata itu selalu menagih.
Padaku ia berkata kau masih hidup.
Ya, aku masih hidup dan kata-kataku belum binasa.
Kebenaran takkan mati.

Nama tetangga saya itu adalah Wiji Thukul, yang kiranya sekarang sudah bahagia dalam sunyi yang dilingkupi kebenaran abadi.

Ya Allah, semoga hari ini kami mampu memetik buah kebenaran-Mu dalam hening dan sepi. Amin.


SABTU PRAPASKA IV
17 Maret 2018
Hari Raya Nyepi

Yer 11,18-20
Yoh 7,40-53

Posting Tahun 2017: Biar Tuhan Membalasnya
Posting Tahun 2016: Kamu Teman Siapa?

Posting Tahun 2015: Dilahirin Lagi?

Posting Tahun 2014: Conspiracy against “J”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s