Orang Bukan Bukan

Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Begitulah kiranya ide dasar dalam Kitab 1 Samuel bab 16 ayat 7. Dengan itu saja cukuplah bisa dimengerti teks bacaan hari ini. Jadi, sudah ya, itu saja…. Tapi mosok postingannya cuma 42 kata sih, kayak update status dong, ihik ihik ihik.

Baiglah, saya tambahi yang mungkin bisa membuat hati mumet. Ceritanya kan kepada beberapa orang yang menganggap diri benar dan memandang rendah semua orang lain, sang guru menyodorkan kisah komparatif orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa. Orang Farisi gimana mau berdoa, wong acuannya orang lain (para pendosa, orang lalim, pezinah, perampok, dan pemungut cukai)? Ini sosok orang yang berpegang pada keyakinan ‘pokoknya gak melakukan kejahatan seperti para pendosa berat itu’ dan merasa sudah cukup dengannya.

Bisa dibayangkan, Anda bukan anak raja dan ratu dangdut [loh apa salahnya jadi anak raja dan ratu dangdut sih?], bukan pengedar narkoba, bukan teroris, bukan anggota Saracen, dan sejenisnya.
Dah gitu doang?
Oh, enggak. Saya juga bukan pemakai plastik, pembuang sampah sembarangan, pengusaha yang tak sadar lingkungan, pembabat hutan untuk bisnis sawit, dan sejenisnya.
Njuk apa lagi yang mau disangkal?
Loh ini bukan menyangkal, Mo. Memang saya juga bukan pemerkosa, pembunuh, garong (emangnya kucing), koruptor kok!
So what gituloh?

Kita bukan garong, tapi juga bukan orang yang siap sedia membantu orang yang kesusahan. Kita bukan pemerkosa, tapi juga bukan orang yang memberdayakan orang lemah. Kita bukan koruptor, tetapi juga bukan pekerja keras yang tulus membangun keadilan sosial. Kita bukan pezinah, tetapi juga diam saja terhadap pemfitnah. Kita bukan pengedar narkoba, tetapi masa bodoh terhadap korban narkoba. Begitu seterusnya: orang bersembunyi dalam tameng ‘bukan ini bukan itu’.

Terhadap diri seperti itu, orang mesti bertanya: njuk kalau bukan ini itu, kontribusimu apa dalam membangun peradaban manusia? Kalau cuma asal tidak berbuat jahat, seperti robot, orang bisa diprogram. Kalau cuma asal cari selamat sendiri, orang bisa juga diprogram. Akan tetapi, kalau orang ditanya apa kontribusinya, orang macam robot tadi tak bisa menjawab, tak tahu dirinya ada di mana di belantara kehidupan ini. Pada poin itu, orang sadar bahwa ia begitu kecil dan seakan tak sanggup berkontribusi bagi peradaban yang berkembang begitu cepat, semakin canggih, semakin bikin puyeng juga.

Ini kata tetangga yang saya gak kenal (tapi beliau pendiri kelompok para soster Salesian): It is true that we are capable of nothing, but with humility and prayer we will keep the Lord close to us and when the Lord is with us, all is well.

Tuhan, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu yang rendah hati. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA III
10 Maret 2018

Hos 6,1-6
Luk 18,9-14

Posting Tahun 2016: Doa Pendosa, Dosa Pendoa
Posting Tahun 2015: Cermin Mana Cermin

Posting Tahun 2014: Saat Tuhan Tiada…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s