Pertama dan Terakhir

Memang tak ada (cinta) pertama tanpa (cinta) kedua. Ungkapan ‘pertama dan terakhir’ biasanya berbau lebay. Itu seperti Anda mendengar atau mengatakan ‘engkaulah satu-satunya’. Itu jelas, setiap orang unik, tak perlu digombali dengan satu-satunya; tapi siapa yang bisa melarang kalau orang mau ngegombal “Kaulah yang pertama dan terakhir” sih

Masih ingat cerita 90-an tentang orang yang PDKT mengetuk pintu rumah sosok yang ditaksirnya?
Putri yang diketuk pintunya bertanya,”Siapa ya?”
“Ini saya.”
“Oh, maaf, saya tak kenal kamu. Pergi aja!” [Enak banget sih ngusirnya?]
Sang putra [ciyeh putra] tak mengerti dan lalu pergi. Tapi apa mau dikata, namanya jatuh cinta gak bangun-bangun, sang putra ini datang lagi beberapa bulan kemudian dan mengetuk pintu lagi.
“Siapa ya?”
“Ini saya.” Jawabannya sama, rupanya tanggapan si putri juga sama,”Oh, maaf, saya tak kenal kamu. Pergi aja!”

Bagaimana ya supaya pintu itu terbuka? Gimana supaya hati pujaannya itu terbuka?
Sang putra datang beberapa bulan kemudian [sabar banget sih ni cowok], lalu mengetuk pintu lagi dan disodori pertanyaan yang sama,”Siapa ya?”
Jawabannya di luar dugaan,”Ini kan kamu.”
Sang putri membuka pintu [mungkin karena kepo],”O ya ya ya, aku tahu. Ayo masuk!”

Saya tak perlu menjelaskan filsafat I & Thou Martin Buber, bukan? Gak usah ya, soalnya saya juga sudah tua. Pokoknya, mencintai sesama seperti diri sendiri berarti ‘aku’ menjadi ‘sebuah kamu’ bagimu dan kamu menjadi ‘sebuah kamu’ bagiku. Aku mengenalimu sebagai yang berbeda dari diriku dan justru karena itulah aku mengenal diriku dalam dirimu. Eaaaa….mumet ora kowe.

Sering terjadi dalam komunikasi orang tanpa sadar memaksakan egonya dikenal orang lain sehingga ia sendiri malah tak mengenal orang lain apa adanya. Orang ini mengenal orang lain untuk menjadikannya sebagai objek yang bisa diperalat untuk memenuhi keinginan diri, lebih daripada ketulusan untuk berempati dengan keberbedaan orang lain itu. Padahal, pada saat orang tulus mengenal orang lain, ia justru bisa menemukan dirinya sendiri. Ya itu tadi, kata Martin Buber, through the Thou a person becomes I.

Omong-omong, tadi saya baca berita ada orang yang lantang menyuarakan tolak dua periode sebagai bentuk demokrasi loh. Ada mahasiswa, ada parpol, ada bintang, mungkin bulan menyusul. Itu hak mereka toh untuk menolak, seperti saya juga berhak menolak penolakan mereka. Ya’ ya’ o punya ketulusan dan kenal pribadi luar dalam yang hendak mereka tolak memimpin dua periode. Ya’ ya’ o satu periode orang bisa menyelesaikan proyek besar bagi ratusan juta penduduk [mengurus kali sa’ uprit aja gak becus]…. tapi ya begitulah tahun politik.

Semoga orang-orang baik bergerak untuk dua periodenya pemimpin yang menunjukkan ketulusan hati dalam kinerjanya. Mesakke toh kalau akhirnya cuma asal beda dan kepentingan orang banyak dikorbankan. Ini curcol ato apa sih?

Ya Allah, berikanlah stamina lahir batin kepada para pemimpin yang secara tulus hati memperjuangkan kepentingan bersama dan keadilan sosial. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA III
9 Maret 2018

Hos 14,2-10
Mrk 12,28b-34

Posting Tahun 2017: Hidup Tanpa Makna
Posting Tahun 2016: Galau Lahir Batin
 
Posting Tahun 2015: Cuma Ada Satu Cinta
Posting Tahun 2014: Ujung2nya Duit atau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s