Cari Penyakit

Kata tetangga saya yang pergi meninggalkan rumahnya (rumah bapak simboknya sih) ke daerah Bandung, komunitas tanpa komunikasi adalah mati. Hari ini teks bacaannya mengisahkan adanya setan yang membuat orang bisu, tak mampu berkomunikasi dengan orang lain. Artinya, orang yang kerasukan setan ini mati dalam komunitas. Si guru datang dan memampukannya berkomunikasi dengan cara mengusir setan pembunuh orang itu dalam komunitas.

Selesaikah persoalannya? Enggak! Setan itu mengambil rupa lain sebagai bagian dari cyber army #eaaaaa, tidak membuat orang jadi bisu tetapi sama-sama membuat orang tak bisa berkomunikasi dengan cara menyebarkan hoax dan yang lain menuntut legitimasi religius dari si guru. Pokoknya, sama-sama menghalangi supaya tak terjadi komunikasi antara si guru dan orang-orang di situ.

Itu cerita peristiwa sekian ribu tahun lalu tetapi kisah oposisi dan pertarungan seperti itu berulang kali terjadi sampai sekarang. Ketidakmampuan orang untuk berkomunikasi benar-benar terjadi di sana-sini: antarpribadi, antaretnis, antaragama, antarnegara, dan sebagainya. Ketidakmampuan untuk berkomunikasi inilah yang bikin suasana tegang dan konflik berkepanjangan, membuat orang-orangnya merasa lebih unggul dari yang lainnya.

Itulah juga yang bikin susah setiap kali agama masuk ke ranah politik: dengan klaim superioritasnya, proses politik pun membuat agama lain terdesak dan keyakinan orang semakin dibentuk oleh ideologi semu tentang hirarki agama: bahwa ada agama yang lebih baik dari agama yang lain. Tak mengherankan, moncong misi atau dakwah diarahkan pada kegiatan proselitisme daripada aktivitas untuk mengupayakan maslahah dan ‘adalah

Memang setan itu lihai bin cerdik, bisa masuk dalam lembaga yang pasti dipandang orang sebagai pembawa kebaikan bagi penganutnya. Jebulnya, diam-diam membunuh orang, mengebiri kemampuannya untuk berkomunikasi, dan benarlah kata tetangga saya bahwa komunitas tanpa komunikasi adalah apa tadi, mati ya. Sungguh ironis. Saya sih tak berharap orang kewowogen agama lalu karena muaknya njuk meninggalkan agama, tetapi yang kewowogen tadi membantu supaya dalam lembaga agama semakin bertumbuh kapasitas untuk berkomunikasi dengan yang lain, yang sejajar, yang egaliter, yang tidak intimidatif dan menyudutkan orang tertentu dengan hoax SARA.  Susahnya, tahun politik begini, biasanya hoax berbau SARA begitu jadi konsumsi masyarakat baperian nan kepo dan mesti adaaaaa aja yang cari penyakit. 

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin mampu mengomunikasikan diri dan tidak jatuh dalam prasangka hoax kami sendiri. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA III
8 Maret 2018

Yer 7,23-28
Luk 11,14-23

Posting 2017: Ngapain Kuliah Ya 
Posting 2016: Lalat-Lalat Cinta
 
Posting 2015: Awalnya Inspiratif Sih…

Posting 2014: It’s Hard to Listen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s