Kebetulan Untung

Bisakah Anda menamai pengalaman saya ini? Saya pergi ke sebuah perpustakaan besar yang terdiri dari lima lantai. Dulu saya biasanya hanya ke lantai satu dan ternyata saya lihat tak ada lagi rak buku. Ruang sirkulasinya juga masih gelap, padahal jarum jam sudah menusuk angka delapan. Perpustakaan buka jam 07.30. Bingunglah saya. Saya ingat bahwa malu bertanya sesat di jalan, saya lalu menghampiri karyawan yang ada di dekat situ, tetapi sedang ngobrol dengan entah pengunjung atau teman kampung.

Tak sabar saya menunggu mereka ngobrol, tetapi tak hendak juga saya menyela pembicaraan mereka. Saya mengalihkan pandangan ke lift dan saya mendekatinya. Pas pintunya terbuka, tetapi sewaktu saya hendak masuk, pintunya mulai menutup, tetapi membuka lagi tanpa saya memintanya. Di dalam lift saya tak memejet tombol lantai yang saya kehendaki karena saya juga tidak tahu saya mesti ke lantai berapa. Indikator menunjukkan lantai dua, dan seorang ibu hendak keluar dan saya mengikutinya tetapi belum sempat keluar lift saya mundur lagi karena ibu itu masuk lagi. Salah lantai katanya. Lantai kok bisa salah ya.

Indikator menunjukkan lantai tiga dan ibu itu keluar lift dan saya mengikutinya tetapi cuma beberapa langkah karena saya pikir saya tidak hendak melakukan pdkt di kantornya. Ada papan arah di dekat situ dan saya tidak tahu saya mesti ke mana pokoknya saya jalan saja. Saya ingat lagi bahwa malu bertanya sesat di jalan tetapi di situ tak ada orang yang bisa saya tanyai, sampai saya masuk sebuah ruangan dan tanpa babibu saya cari buku di komputer dan saya serahkan kode buku ke petugas dan ternyata buku itu memang ada di situ, di ruangan itu, bukan di ruangan lain, bukan di lantai lain, bukan di perpustakaan lain. Kata tetangga saya,”Kok bisa ya?” Dengan modal plonga-plongo saya sampai ke tempat yang ‘benar’. Kok bisa ya? Kebetulan? Apa ada sesuatu di bumi ini yang bisa disebut kebetulan?

Itu bukan kejadian unik. Mungkin Anda punya pengalaman serupa. Ignasius dari Loyola mengalaminya ketika ia mengambil keputusan seturut pilihan jalan keledai tunggangannya (bdk. Ritual Natal: Halal-Haram). Saya sulit menyebutnya kebetulan kecuali sebagai gaya cakap berbahasa saja. “Kebetulan lift terbuka; kebetulan ada ibu salah lantai; kebetulan bukunya memang di situ.” Bukunya memang di situ, ditata staf perpustakaan. Ibu itu tidak kebetulan salah lantai, memang dia tidak ngeh bahwa dia baru sampai lantai dua. Itu tadi curcol pengalaman yang saya syukuri hari ini. Apa hubungannya dengan teks bacaan hari ini? Mboh.

Barangkali penyempurnaan hukum tidak terletak pada kesempurnaan rumusan hukum itu sendiri (meskipun manusia tentu hendak mengupayakan supaya UU MD3, misalnya, sempurna, tidak malah jadi tameng protektif bagi dirinya sendiri), tetapi pada implementasinya sedemikian rupa sehingga orang menemukan Kebenaran. Bagaimana bisa? Barangkali karena Tuhanlah yang berperan. Dia sendiri menuntun hati orang yang tertambat pada Kebenaran. Dialah yang menggenapi hukum, yang kerap malah dikacaukan manusia sendiri.

Tuhan, semoga kami mampu mengimplementasikan hukum-Mu dengan hati yang senantiasa fokus pada-Mu. Amin.


HARI RABU PRAPASKA III
7 Maret 2018

Ul 4,1.5-9
Mat 5,17-19

Posting Tahun 2017: Agama Nganu
Posting Tahun 2016: Menerima Kado

Posting Tahun 2015: Love and Do Whatever You Want

Posting Tahun 2014: Do We Need School of Heart?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s