Bagi Cinta Dong

Mengulang posting tahun lalu, sebagaimana cinta, pengampunan tak kenal batas. Teorinya gampang, praktiknya susah. Pancen, kalau beriman gampang, apa maknanya? Kalau beriman itu pasti-pasti aja, apa bedanya dengan sains (yang ternyata mengenal relativitas)? Tak bisa, Saudara-saudara, orang hendak beriman dan terus menerapkan hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi, alias hukum pembalasan. Ia akan sibuk dengan menentukan kriteria keadilan manusiawi.

Kesulitan pengampunan-tanpa-batas tidak terletak pada penentuan kriteria berat-ringan kesalahan orang lain atau luas-sempit akibat kesalahan orang lain itu. Juga tidak terletak pada bagaimana melupakan kesalahan orang lain. Pada kenyataannya, pengampunan justru tidak dimaksudkan untuk memberi toleransi terhadap struktur ketidakadilan, tetapi membongkar struktur ketidakadilan itu. Pengampunan justru mengingat bagaimana pelaku membuat kejahatan atau ketidakadilan, tetapi sudah tidak direcoki lagi oleh emosi atau niat balas dendam. Susah, bukan? Kita ingat orang lain menyerobot hak kita dan ingatan itu sudah senantiasa menimbulkan rasa marah, jengkel, niat mithês orang itu, dan sebagainya.

Dari situ saja sudah kelihatan bahwa pengampunan sebetulnya pertama-tama adalah soal berdamai dengan diri sendiri. Susah. Lha iya memang; apa belum kewowogen juga oleh kata ‘susah’? Apa yang bikin susah? Mari belajar dari perumpamaan yang diceritakan pak guru dalam teks hari ini. Orang kaya yang hutangnya super banyak dibebaskan dari hutangnya, tetapi mencekik orang miskin yang berhutang sedikit saja darinya. Kenapa toh bisa-bisanya dia bersikap kejam terhadap orang miskin? Tak punya hatikah?

Problemnya ialah si orang kaya itu tak punya pengalaman akan pengampunan. Loh, kan dia baru saja dibebaskan dari hutangnya, Mo? Ya persis itu soalnya. Kita secara objektif bisa mengatakan orang kaya itu diampuni tuannya, tetapi ia sendiri tak menerima pembebasan hutangnya yang maha besar itu sebagai pengampunan. Nemo dat quod non habet. Ia tak bisa membagikan pengalaman kemurahan hati tuannya karena ia tak melihatnya sebagai pengalaman akan pengampunan.

Maka dari itu, susahnya beriman ialah bahwa orang mesti melihat dimensi horisontal dan vertikal. Kalau orang punya masalah besar dengan orang lain, ia cuma terfokus pada dirinya dan orang jahat itu (padahal jangan-jangan kita sendiri yang jahat). Kalaupun ingat Tuhan, bisa jadi cuma untuk memohon supaya orang jahat itu mendapatkan balasan setimpal [lha rak intinya sama: hukum pembalasan]. Lagi-lagi, itu soal horisontal: orang itu tak adil, keterlaluan, tak tahu diri, bla bla bla.

Pengampunan tanpa batas menjadi sulit karena orang memandang orang lainnya sebagai objek, bahkan memandang Tuhan juga sebagai objek harapannya sendiri. Orang beriman, sebaliknya, punya kepercayaan bahwa pengampunan itu adalah anugerah dari Allah, bukan upaya manusiawi belaka. Kalau orang masih meyakini pengampunan sebagai urusannya dan dia, tentu pengampunan-tanpa- batas itu jadi setengah modar

Orang beriman, melihat pengampunan-tanpa-batas sebagai cinta yang dialirkan Tuhan melalui dirinya. Tugas orang beriman ‘cuma’ membagikan cinta pengampunan itu. Yang ‘cuma’ itu tak pernah jadi mudah jika orang tak membangun relasi dengan sumber cintanya sendiri (piye jal, berdoa tapi isinya menyerapah orang lain). Pengampunan bukan soal kesalahan orang lain, melainkan soal diri Anda dan relasi Anda dengan-Nya.

Tuhan, kasihanilah kami yang sulit membagikan cinta-Mu. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA III
6 Maret 2018

Dan 3,25.34-43
Mat 18,21-35

Posting Tahun 2017: Ganti Fokus Bro’
Posting Tahun 2016: Mau Perfeksionis?

Posting
Tahun 2015: Revolusi Mental Hukum Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s