Ganti Fokus Bro’

Pengampunan sejati itu seperti cinta, tak mengenal batas dan titik jenuh. Kalau dipadankan dengan apa yang konon dikatakan Gus Dur, pengampunan sejati itu seperti kesabaran. Orang sabar tak mengenal batas kesabaran karena begitu menentukan batas dan orang tiba di titik batasnya, kesabaran itu hilang. Sulit? Ya jelaslah. Mana ada hidup beriman itu mudah? Dibuat mudah bisa (gitu aja kok repot) tetapi itu tidak mengubah perkaranya yang sulit. Bagaimana membuat perkara itu, yang senyatanya sulit, mudah?

Jika menilik bacaan kedua hari ini, rumusnya sederhana: fokus pada pengalaman belas kasihan Allah [Hahaha lha ya itu yang sulit, Mo!]. Begitu orang keluar dari fokus itu, ia masuk dalam tolok ukur manusiawi yang pasti terbatas. Artinya, pasti ada batas-batasnya dan dengan demikian, pengampunan pun jadi terbatas. Silakan lihat saja pada bagaimana sebuah [Kok sebuah sih? Lha njuk apa ya kalau bukan sebuah?] paslon melakukan kampanye. Meskipun slogannya adalah menyejahterakan dan membahagiakan rakyat, tetapi bisa jadi fokusnya adalah kekuasaannya sendiri. Akibatnya, targetnya adalah menjatuhkan lawan [asal bukan ahoy] alih-alih menyodorkan alternatif program alternatif yang komprehensif.

Jika itu targetnya, komponen pendukungnya tentu punya kepentingan dengan batas-batas (kontrak) tertentu dan inilah yang kemudian malah bisa bikin cekcok. Jadi lebih ribet daripada program yang lahir dari ketulusan hati, bukan? Acuan ketulusan hati bukanlah bagaimana orang mendapatkan kekuasaan, melainkan bagaimana belas kasih, kemurahan hati Allah itu ditularkan. Hmmm…. ini kok omongannya suci tapi kayaknya nyerempet-nyerempet politik ya, Rom? Oh iya ya… [tapi memang ada hubungannya kok]. 

Kembali ke pengampunan tanpa batas tadi deh. Kapan batas itu mulai dibentuk? Ya itu tadi: saat orang fokusnya bukan pada kemurahan hati atau cinta Allah kepadanya, melainkan pada aneka penilaian manusiawi. Aneka penilaian manusiawi itu bermuara pada penghakiman dan begitu ada penghakiman, di situlah muncul batas.

Sudah dicontohkan pada refleksi hari Minggu kemarin: orang gila dari Nazaret itu tidak menjumpai perempuan Samaria dengan modal penghakiman. Ia tidak menghakimi wanita Samaria sebagai kafir pendosa. Ia lebih peduli bagaimana cinta Allah itu bisa mendarat dalam hati wanita Samaria itu.

Kerapkali orang bertutur kata “Sudah lupakan saja” atau “Saya sudah menerimanya” atau bahkan “Saya sudah memaafkannya”, tetapi dalam hatinya masih ada penghakiman bahwa orang lainlah yang salah karena sudah mengkhianati dirinya, menipu, menyakiti, memfitnah, dan sebagainya. Ini adalah sisa-sisa kesombongan diri yang menjadikan pengampunan bersyarat. Orang beriman tidak berfokus pada aneka rasa perasaan terhadap orang lain yang perlu diampuni, tetapi pada kekuatan Allah yang cinta-Nya terhadapnya begitu besar dan tanpa batas. Dari situ mengalir pula pengampunan yang tak kenal batas dan pertanyaan sampai kapan mengampuni tak lagi relevan.

Ya Allah, mohon rahmat kepekaan batin terhadap cinta-Mu lebih daripada perhitungan manusiawi yang membatasi karunia-Mu. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA III
21 Maret 2017

Dan 3,25.34-43
Mat 18,21-35

Posting Tahun 2016: Mau Perfeksionis?
Posting
Tahun 2015: Revolusi Mental Hukum Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s