Siapa Dulu Suaminya

Yosef bukan tokoh sentral dalam Gereja Katolik tetapi hari ini dirayakan secara khusus sebagai suami Maria. Sayangnya saya tak punya bayangan bagaimana rasanya bersuami karena saya laki-laki tak bersuami (suwer!). Yang bisa saya rasa-rasakan ialah bagaimana bersosok ayah seperti Yosef ini: tulus, rendah hati, jujur, bertanggung jawab, dan pokoknya yang baik-baik deh. Akan tetapi, apakah Gereja Katolik merayakan Yosef suami Maria ini sekadar untuk mengingatkan orang pada kualitas-kualitas moral seperti itu supaya orang mencontohnya? Tentu tidak. Ini terlihat dari bacaan-bacaan yang diambil untuk perayaan Santo Yosef ini: semuanya mengacu pada sosok Yesus, anak angkatnya.

Tentu saja Yosef berperan terhadap sosok sentral itu, tetapi kalau dia ikut Pilkada gelombang kedua, tentulah ia berkampanye secara senyap [eaaaa…. njuk opo hubungane!]. Peran Yosef tak banyak terlihat dalam Kitab Suci, tetapi dengan common sense saja pembaca tahu bahwa sosok ayah dalam keluarga yang “baik-baik” tentu menorehkan paradigma yang baik juga dalam diri anaknya. Saya belajar ‘sok pahlawan’ dari ayah saya, juga tanggung jawab, kejujuran, kerja keras, ketulusan, dan kerendahan hati (emangnya lu rendah hati, kok malah pamer kerendahan hati!). Itu modal yang saya punya dari ayah saya, selain kemiskinannya haha.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kecuali pohonnya ada di puncak bukit gundul nan curam. Itu berlaku juga kiranya pada Yesus. Yang langsung tebersit dalam benak saya ialah pertanyaan soal dari mana dia bisa menyebut Allah orang Yahudi itu sebagai Bapa alias Abba (pada saat mengetik ini saya sedang mendengar lagu ABBA… the winner takes it all). Kita tahu, Bapa atau Abba ini tidak identik dengan ayah atau bapak dalam hidup berkeluarga, tetapi memuat juga kualitas-kualitas kebapakan.

Saya kontemplasikan relasi Yosef dengan anak tunggalnya itu sedemikian dekatnya sehingga di kemudian hari si Yesus bisa omong soal Allah yang personal, yang tidak ideologis lewat hukum-hukum-Nya, yang bukan utak-atik-otak, yang berelasi akrab dengan manusia. Barangkali juga dalam pendidikan anaknya itu Yosef tak sanggup menjawab pertanyaan kritis anaknya. Bisa jadi ia diam saja seperti Maria tak sanggup mencerna polah Yesus anaknya tetapi berupaya mengolahnya dalam batin dan kemudian Yesus pun mengalami pergumulan batin dalam Taman Getsemani yang berpuncak di salib (dan kemudian diapropriasi juga oleh Scorsese dalam film Silence kemarin).

Begitulah, salah satu peran penting Yosef adalah pembentukan paham Allah yang tremendum sekaligus fascinosum (menggentarkan sekaligus memesona) dalam hidup konkret manusia. Paham Allah ini dibangun dalam relasi batin dengan diri sendiri, sesama, dan semesta. Pastilah Yosef tidak mengajarkan paham Allah itu di kelas, tetapi dalam hidup keseharian yang terbatinkan dalam pribadi Yesus.

Semoga kepada anak-anaknya, para bapak, ayah, papa, papi, pa’e dan sejenisnya dapat memberi gambaran Allah yang dekat dengan semesta, bukan gambaran Allah yang sangar menakutkan penuh penghakiman dan tak terjangkau. Amin.


HARI RAYA S. YOSEF, SUAMI SP MARIA
(Senin Prapaska III A/1)
20 Maret 2017

2Sam 7,4-5a.12-14a.16
Rm 4,13.16-18.22
Mat 1,16.18-21.24

Posting Tahun 2016: Beneran Amanah?
Posting Tahun 2014: From Humiliation to Humility

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s