Beneran Amanah?

Salah seorang teman saya bernama Yosef dan istrinya bernama Maria. Sebetulnya, yang teman saya sih si istrinya itu, tapi mau gimana ya, wong hari ini yang dirayakan Gereja Katolik adalah Santo Yosef, suami Maria. Jadi, mesti saya sebut dulu Yosefnya dan tak perlu dipahami sebagai bias gender. Yang mau saya sampaikan di sini ialah bahwa baik Yosef-Maria teman saya maupun Yosef-Maria yang dirayakan Gereja Katolik hari ini, sama-sama jadi ‘korban ketaatan’; dan keselamatan memang merupakan ketaatan murni. Kok isa?

Orang yang akrab dengan Kitab Suci akan tahu bahwa tak ada proyek hidup dan keselamatan yang muncul semata dari keinginan manusia. Keselamatan adalah buah ketaatan terhadap kehendak Allah. Adam sendiri tak berpikiran soal mencari pendamping hidup. Ya ngapain juga cari pendamping hidup, wong hidup firdausi itu sudah berkelimpahan, dinikmati sendiri saja toh?! Allah tidak berpikiran begitu rupanya. Ia memandang tak baik bahwa Adam hidup sendirian, perlu ciptaan yang sepadan. Jadi, bahkan dalam penciptaan Hawa pun, Adam tak melibatkan kehendaknya. Memang katanya Hawa dicipta dari tulang rusuknya, tetapi tulang rusuk itu bukan kehendak Adam.

Dengan membandingkan penciptaan Hawa dari Adam dan Yesus dari Maria, bisa kita lihat peran Yosef dalam misteri keselamatan: ia merealisasikan kehendak Allah. Baik ciptaan lama maupun baru, semuanya berasal dari kehendak Allah. Pantas dicatat, keinginan dan rencana Yosef untuk menceraikan Maria secara diam-diam bukan sesuatu yang buruk. Pada dasarnya, Yosef justru ingin menyelamatkan Maria dari kemungkinan buruk yang bisa menimpa dirinya. Akan tetapi, bahkan moralitas yang baik ini pun di mata Tuhan bukan segala-galanya. Bisnis orang beriman bukan moralitas, melainkan intimitas dengan Allah.

Intimitas dengan Allah itu tak terletak pada durasi orang memejamkan mata atau indahnya, seragamnya, disiplinnya gerak ritual, tetapi pada operasionalitas kehendak Allah dalam hidupnya. Maka, ketaatan yang jadi ulasan di sini bukan pertama-tama ketaatan pada pejabat tertentu, melainkan ketaatan pada kehendak Allah. Lha gimana taunya itu betul-betul kehendak Allah atau bukan? Dulu masih bisa orang seperti Yosef bangun dari tidur dan melakukan apa yang disampaikan malaikat lewat mimpinya. Sekarang? Mimpi orang bisa kacau dan tafsir mimpi bisa jadi arbitrer. Soal ‘bagaimana’ ini bisa dipecahkan dengan metode, yaitu pembedaan roh.

Tanpa perlu njelimet, mari lihat salah satu sikap dasar yang dihayati Yosef. “Jabatan itu amanah. Anda gak usah rebut, Tuhan  yang kasih, Tuhan yang ambil. Yang penting Anda kerja secara benar!”
Yosef pasti tidak mengatakan hal itu, wong dia gak kepikiran jadi gubernur. Ia tak menghendaki menikahi Maria setelah skandal yang terjadi pada Maria. Akan tetapi, kepercayaannya kepada Allah menuntunnya pada ketaatan untuk terlibat dalam proyek Allah. Banyak orang belagu mengira seluruh keberhasilannya adalah kekuatan mimpi atau kekuatan dirinya, lupa bahwa mereka tak menciptakan dan memelihara eksistensi oksigen!

Ya ya ya, trus, itu kan Yosef-Maria yang dirayakan Gereja Katolik hari ini. Kalau Yosef-Maria temen Romo itu gimana ceritanya bisa dipadankan sebagai ‘korban ketaatan’? Heheheh… itu rahasia.

Tuhan, semoga kami senantiasa eling bahwa hidup kami adalah amanah dari-Mu. Amin.


HARI RAYA S. YOSEF, SUAMI SP MARIA
(Sabtu Prapaska V)
19 Maret 2016

2Sam 7,4-5a.12-14a.16
Rm 4,13.16-18.22
Mat 1,16.18-21.24

Posting Tahun 2015: Cinta Bukan Ngampet
Posting Tahun 2014: From Humiliation to Humility

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s