Menggambar Allah Lagi

Teks hari ini menyajikan tuduhan eksplisit resmi dari para pemuka agama terhadap Yesus sebagai penghujat Allah. Yesus menyamakan dirinya dengan Allah, yang tak bisa diterima dalam tradisi agama manapun. Tuduhan ini meniti jalan permusuhan pemuka agama Yahudi saat itu dengan Yesus. Saya tidak yakin bahwa Yesus menyamakan dirinya dengan Allah hanya karena ia berkata bahwa ia dan Bapanya adalah satu. Ungkapan itu ‘hanya’ mau mengatakan bahwa Yesus sedemikian dekat dengan Allah sehingga Sabda-Nya itu benar-benar terealisir dalam hidupnya. Lagi, saya mengacunya pada pengalaman biblis (bdk. posting Terima Kasih Ahong).

Dalam diskusi hari ini, Yesus menyitir teks Mazmur (82), yang sekali lagi karena kepentingan ideologis tertentu dalam bahasa Indonesia diterjemahkan: Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.  Teks Mazmur ini justru dimengerti oleh tradisi rabinik (apaan sih tuh? Silakan tanya simbah dunia maya) sebagai kritik, undangan untuk mawas diri, ngaca terhadap hakim-hakim lalim, yang tak adil, yang sebetulnya ya manusia biasa, yang dijuluki dengan gelar para dewa karena fungsi ‘setengah dewa’ yang mereka jalankan. Barangkali itu bisa kita pahami dengan ungkapan protes murid terhadap kekuasaan guru yang jadi seperti ‘dewa’; sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa guru itu adalah dewa.

Yesus menyitir ungkapan ‘anak-anak dari (Allah) Yang Mahatinggi’ dan bukannya ‘kamu adalah para dewa’ pada ayat 36. Lha, problemnya ialah, kalau dalam teks Perjanjian Lama hakim-hakim itu saja dijuluki dengan dewa-dewa, kenapa jadi masalah kalau yang dijuluki itu Yesus? Yesus sendiri malah tidak menyamakan dirinya dengan Allah dan lagipula perilakunya juga adil. Bukankah dalam Perjanjian Lama hakim-hakim dijuluki sebagai para dewa karena mereka menjadi kendaraan Sabda Allah sendiri (Yoh 10,35)?

Kalau begitu, Yesus mestinya lebih layak lagi dong disebut sebagai dewa itu? Pada kenyataannya, Yesus menjadi utusan Allah yang memungkinkan Sabda Allah itu jadi konkret. Ia jadi gambar Allah sendiri dan ia sama sekali tak keberatan kalau orang-orang tak percaya kepadanya sebagai utusan Allah. Sekurang-kurangnya, mereka perlu mempertimbangkan apakah perbuatannya itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan yang berasal dari Allah. Kalau memang tidak, tentu wajarlah orang-orang tak percaya Yesus sebagai utusan-Nya. Akan tetapi, kalau memang perbuatannya itu mencerminkan gambar Allah yang hidup, kenapa risau dan sewot dengan julukan ‘anak-anak Allah’ dan tak terima bahwa semua saja diundang untuk menjadi ‘anak-anak Allah’? Ini sama sekali bukan julukan eksklusif orang Kristen. Semua saja diundang membuat gambar Allah jadi konkret dalam hidup mereka. Gambar Allah macam apa yang kita hadirkan?


HARI JUMAT PRAPASKA V
18 Maret 2016

Yer 20,10-13
Yoh 10,31-42

Posting Jumat Prapaska V 2015: Mulutmu Hariwowmu
Posting Jumat Prapaska V 2014: Kairos, Siapa Takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s