Makan tuh Cinta

Siapa pernah jatuh cinta di pinggiran sumur timba sedalam 32 meter? Saya kira tidak ada. Hari gini gituloh. Bacaan hari ini menyinggung soal jatuh cinta berlokasi sumur yang konon berusia kurang lebih 3000 tahun sekarang ini. Ini bukan jatuh cinta alay dan penulis Yohanes merefleksikan peristiwa ini dari kedalaman batinnya. Kalau menilik peristiwanya memang rada maksa karena laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam kisah cinta ini nyeleneh. Yang satu gak umum pergi ke sumur jam 12 siang dan sumurnya itu lebih jauh dari sumur lain di daerahnya. Yang laki-laki juga gak umum karena menempuh jalur yang ribet sehingga kehausan di dekat sumur ini alih-alih mengambil rute yang lebih singkat. Tapi ya begitulah kisah yang dituturkan penulis Yohanes ini dan dia punya alasan tersendiri untuk mengisahkan cerita cinta ini.

Saya tertarik pada dua hal. Pertama, pada perubahan sikap si perempuan Samaria terhadap laki-laki yang bernama Yesus, yang meminta minum darinya. Semula ia terheran-heran bagaimana orang Yahudi ini bisa-bisanya meminta minum dari perempuan yang dianggap kafir pula! Dah perempuan, tambah kafir, jadi dobel kan kenajisannya. Tapi kemudian perempuan itu menyebut Yesus itu dengan sapaan Tuhan. Awasss!!! Anda yang Kristen mungkin akan take it for granted bahwa Yesus itu memang Tuhan sehingga wajar saja orang Samaria itu menyebutnya demikian. Zaman itu, Saudara-saudari, belum ada ajaran teolog atau ahli agama mengenai ketuhanan Yesus, jadi naiflah memahami atribut perempuan Samaria itu sebagai gelar ketuhanan Yesus. Maklumlah, terjemahan bisa jadi pengkhianatan. Andaikan saja terjemahannya itu ‘Tuan’, kiranya tak perlu ada kesalahpahaman.

Perempuan itu menaruh respek kepada laki-laki yang berwacana dengannya, yang tak seperti orang Yahudi lainnya, tidak menunjukkan judgment terhadap dirinya yang secara moral dianggap buruk oleh orang Yahudi dan mungkin bahkan oleh orang Samaria lainnya. Yesus itu tidak menghakimi meskipun tahu bahwa perempuan ini dikibaskan oleh lima ‘suami palsu’-nya dan bahkan sekarang masih bersama laki-laki yang bukan suaminya. Bisa jadi standpoint Yesus ini sangat menyentuh perempuan Samaria itu. Ia pun berpikir bisa jadi laki-laki yang dihadapinya ini adalah Mesias yang dinanti-nantikan orang Yahudi itu.

Kedua, pada dampak yang terjadi pada perempuan yang terkesima oleh Yesus itu. Jatuh cintanya pada Yesus itu bukannya membuat dia semakin krasan berlama-lama di sumur bersama laki-laki menawan itu, melainkan mendorongnya pergi ke kota dan mengajak orang-orang di sana untuk menemui laki-laki itu, kalau-kalau ia memang Mesias (bahasa Ibrani) atau Kristus (bahasa Yunani).

Dua hal itu mengantar saya pada pertanyaan: apa yang memungkinkan itu terjadi. Saya kira terutama karena sikap Yesus sendiri yang nonjudgmental dan kepiawaiannya menggiring perempuan Samaria itu untuk mengakrabi sumber air hidup dalam dirinya sendiri: melihat kebenaran, mengerti kehadiran Allah yang pengampun dan pecinta ulung. Orang hidup tak cukup dengan makan cinta, tetapi jika cinta itu dimengerti secara tepat, sebetulnya memang begitulah hidup ini: love is enough, karena darinya mengalir kehidupan.

Tuhan, kami mohon rahmat supaya mampu mencinta tanpa mengharapkan upah minimum sekalipun. Amin.


MINGGU PRAPASKA III A/1
19 Maret 2017

Kel 17,3-7
Rm 5,1-2.5-8
Yoh 4,5-42

Minggu Prapaska III C/2 2016: Dua Model Keberdosaan
Minggu Prapaska III B/1 2015: Kita Dihukum Bebas
Minggu Prapaska III A/2 2014: Fragile but Called to Love *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s