I’m Faded

Seseorang menjadi teman sampai ia mulai melontarkan ungkapan yang tidak menyenangkan, kritis, tidak klop dengan yang kita inginkan. Bisa jadi begitulah dinamika hidup, tidak hanya di media sosial, tetapi juga bahkan dalam relasi kopdar. Tak suka ya tinggal unfriend. Dalam teks bacaan hari ini, belum ada mekanisme unfriend, jadi reaksi orang-orang ialah menghalau si guru dan mendesaknya ke tepi jurang untuk melemparkannya ke bawah. 

Dengan begitu, kelihatanlah bahwa sebetulnya tak ada jaminan bahwa usapan lembut merupakan kasih sayang atau tamparan adalah ungkapan kebencian. Si guru hari ini bicara dan pendengarnya mengangguk-angguk terpukau sampai ia mulai omong soal sejarah bagaimana nabi-nabi Israel dulu malah diutus kepada orang-orang bukan Israel alias kafir [apa belum kewowogen kata kafir sih?]. Ini memang ungkapan provokatif yang langsung menyinggung harga diri orang-orang Israel saat itu.

Apa problemnya? Ya si guru itu mau menegaskan dirinya sebagai nabi, bahkan Mesias. Pikir mereka (saya pikir): omonglah apa saja selain meyakinkan kami bahwa kamu adalah nabi, Mesias, Tuhan, dan sejenisnya! Kenapa sih? Karena ideologi kaku yang tertutup, eksklusif, susah membuka mata, dan sejenisnya.

Padahal sebetulnya kalau pikiran orang sedikit saja dibuka, orang tak perlu repot-repot menggenggam erat ideologinya sendiri. Dengarkan saja apa yang diomongkannya. Oh, dia mengklaim dirinya sebagai nabi, sebagai Mesias. Oke, fine. Tinggal cocokkan saja polahnya dan akibat-akibat polahnya itu: apakah membawa maslahah dan keadilan sosial? Kalau tindak-tanduknya malah menimbulkan kecemburuan sosial dan ketidakadilan sosial semakin menjadi-jadi, jelaslah: unfriend!

Akan tetapi, kalau memang apa yang diperjuangkan itu mengarah pada kesejahteraan bersama, keadilan sosial, betapapun itu menuntut kita untuk berubah, mengapa tak dibiarkan saja (kalau untuk mengakuinya susah)?
Loh, Mo, kan dalam ajaran agama sudah ditegaskan bahwa nabi itu bla bla bla dan Mesias itu bli bli bli? Haiya itu termasuk ideologi tertutup tadi yang dilepaskan dari kenyataan hidup sosial. Adanya cuma di kepala nan ideologis. Makan tuh ideologi, hahaha.

Ada kalanya keyakinan ideologis bisa jadi pegangan, tetapi ada juga momen ketika ideologi itu membutakan orang untuk melihat terang kebenaran dalam hal yang berbeda, yang mengejutkan, yang tampak bertentangan. Kalau orang beriman tak siap dengan hal ini, ia malah bakalan puyeng dengan ideologinya sendiri, going nowhere, hilang, fadedKlik di sini kalau mau lihat klipnya.

Tuhan, mohon kebeningan hati dan budi supaya kami tidak terjerembab ke dalam jurang ideologi busuk yang justru menghambat-Mu untuk mewahyukan Diri kepada manusia. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA III
5 Maret 2018

2Raj 5,1-15a
Luk 4,24-30

Posting Tahun 2016: Gak Butuh Nabi
Posting Tahun 2015: Logika Kuasa Gak Jalan

Posting Tahun 2014: Change The Way of Thinking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s