O Ya Bongkar!

Kalau Anda pelari jarak menengah, mungkin Anda butuh waktu lima menit untuk mengelilingi kompleks Bait Allah yang jadi setting tempat dalam cerita hari ini. Konon luas kompleks itu setara dengan 22 lapangan sepakbola reguler, katakanlah 2100 meter gitu ya. Ini penampakannya sekarang:

Yang dimaksud dengan kompleks Bait Allah, yang dibangun selama 46 tahun ialah yang berwarna cerah dalam gambar di bawah ini.

Yang disebut Bait Allahnya sendiri adalah yang ada jendolan besarnya. Menurut rekonstruksi ahli sejarah-arkeologi, dulunya tak ada jendolan besar begitu. Begini gambar kompleksnya (yang bagian terang ialah Bait Allahnya).
Kalau Anda perhatikan tembok kompleksnya, itu tingginya sekitar 20-an meter. Tampaknya memang itu wilayah perbukitan yang diratakan untuk membuat kompleks Bait Allah. Wajarlah bahwa dibutuhkan 46 tahun untuk membangunnya pada saat itu.

Celakanya, baik penerjemahan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia kurang memperhatikan distingsi antara ‘hieros’ (ἱερός) dan ‘naos’ (ναός) sehingga tidak begitu jelas apa yang diungkapkan dalam perseteruan antara guru dari Nazareth dan para pemuka agama Yahudi.

Dikisahkan bahwa di Bait Suci (hieros) itu sang guru mendapati orang-orang yang berjualan hewan korban dan juga penukar uang. Apakah aneh? Tidak. Memang dibutuhkan hewan korban dan money changer supaya seluruh instrumen yang dipakai untuk ibadat itu halal. Bahwa di antara penjual dan pengelola hieros itu ada kongkalikong dan mesti berurusan dengan KPK, itu lain perkara. Si guru bukannya tidak sadar perkara ini, tetapi bukan soal itu yang diperkarakannya.

Yang diperkarakannya ialah bahwa orang juga memperlakukan relasi manusia dengan Tuhan seperti relasi jual-beli tukar-menukar itu: aku sumbang ini itu biar berkat Tuhan kelak turun padaku. Sekali lagi ini bukan soal bahwa di kompleks ibadat itu dilangsungkan aneka bisnis [saya tidak dibayar pedagang di sekitar tempat ibadat untuk mengatakan hal ini]. Dari mana saya bisa menyimpulkan begitu?

Mari lihat tanggapan Yesus ketika dimintai legitimasinya sehingga berani-beraninya dia berlagak hendak menyucikan Bait Allah itu. Dia bilang,”Rombak Bait Allah ini dan aku akan membangunnya dalam tiga hari.” Tuing tuing tuing, tentu mereka gusar. Gile aje lu, apa lu kagak tau bangunan ini baru aja kelar dibangun setelah 46 tahun?

Itulah persoalannya. Yesus menyebut ‘naos’ (ναός), bukan ‘hieros’ (ἱερός). Artinya, yang ditunjuknya bukan soal hiruk pikuk bisnis di kompleks Bait Allah, melainkan tempat sentral Bait Allah itu, part of the temple that God resides. Ada apa sih dengan ‘naos’ itu? Di situ ada proses screening ketat, ada batas suci. Kalau di ‘hieros’ orang non-Yahudi pun boleh masuk (CMIIW), di ‘naos’ itu tak mungkin; bahkan di ruang tertentu hanya imam yang boleh masuk, dan di ruang tersuci hanya imam besar yang boleh melarikan diri #eh…. Singkatnya, ada pembatas, diskriminasi.

Penulis teks hari ini memberi catatan bahwa ketika Yesus mengatakan rombak-rombak atau bongkar-bongkar itu, ia sedang bicara mengenai dirinya sendiri: rombaklah sekat-sekat, aneka diskriminasi itu, supaya aku bisa membangun relasi autentikmu dengan Allah yang transenden itu. Nota bene: berapa banyak orang beragama yang justru membuat sekat sehingga Allah inaccessible atau unapproachable bagi orang lain?

Tuhan, mohon rahmat untuk menghancurkan sekat, diskriminasi yang menghalangi kami untuk bermesraan dengan-Mu. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA III B/2
4 Maret 2018

Kel 20,1-17
1Kor 1,22-25
Yoh 2,13-25

Posting Tahun 2015: Kita Dihukum Bebas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s